Langsung ke konten utama

Postingan

Mahasiswa Milenial Kekeringan Kesadaran

Mahasiswa Milenial Kekeringan Kesadaran Mahasiswa era 1930-an adalah mahasiswa di era serba kekurangan. Bukan hanya materi, melaikan kekurangan kepercayaan, harapan masa depan, dan sebuah cita-cita luhur akan kehidupan yang akan datang. Sosok mahasiswa era 1940 tidak jauh berbeda dengan satu dekade sebelumnya. Namun, di era tersebut mereka mulai memanfaatkan ketidakpercayaan sebagai sebuah media untuk menggagas sebuah rencana ke depan. Mengotak-atik segala permasalahan dengan pemikiran skeptis yang tidak bertendensi pada kekuasaan zaman tersebut. Tahun 1942, lahirlah seorang pemuda dari keturunan china, yang namanya hingga kini masih sering terdengar dan digaungkan di berbagai bentuk aksi memorial. Seo Hok Gie,   hingga kini masih terkenang sebab pemikiran-pemikiran kritis, idealis, dan desduktrif. Generasi baru atau mahasiswa baru adalah julukan yang disematkan kepada mereka para “manusia” yang lahir sebelum dan setelah masa kemerdekaan Indonesia atau yang manusia de...

Ini Aku, Mengenai Pandanganku

Ini Aku, Mengenai Pandanganku Tuhan menganugerahkan mata kepada manusia agar dengan itu mereka dapat menangkap keajaiban yang telah Tuhan ciptakan. Aku ingin bercerita tentang seseorang yang telah banyak memberiku pemahaman.  Ini bukan mengenai sebuah teori-teori pelajaran, tetapi pemahaman akan hakikat sebuah keadaan. Dulu, aku selalu ingin mengabadikan setiap momen penting, unik, luar biasa, atau berkesan dengan sebuah foto.  Gambaran mengenai keadaan yang sedang terjadi dalam perjalanan hidupku.  Berasa kurang rasanya jika setiap momen itu tidak ditangkap oleh kamera.  Merasa tidak ikhlas jika terlewat begitu saja.  Bahkan tak jarang merasa sedih, marah, dan kesal jika tanpa sengaja tak tertangkap kamera. Ini tentang dia yang hingga kini mampu menjadikanku manusia yang tidak menuhankan “foto”. Sekadar sebuah gambaran yang menjadi deskripsi keadaan. Aku masih bisa mengingat mengenai apa yang kubicarakan dengannya hingga pada...

Coba Kutanya pada Ibu

Coba Kutanya Pada Ibu Oleh : Yosi Sulastri Seorang adik menangis setelah terjatuh ketika ia sedang berjalan bersama kakaknya. Coba tebak siapa yang kena marah ibunya? Ya, sang kakak yang mendampingi adiknyalah yang mendapat omelan. Sebab menurut ibunya ia yang lebih mengenal bagaimana menjaga diri dan bagaimana cara melindungi. Padahal, sang kakak sudah menggandeng tangan adiknya dengan erat. Apa mau dikata, sang adik terjatuh sebab tersandung kakinya sendiri. Tetapi, saya tegaskan lagi, sang ibu tetap memarahi kakaknya dengan omongan kasar bahkan tak jarang tangan pun melayang. Sedangkan sang adik dibelai, dielus, di-ninabobo-kan, padahal sebenarnya ia pantas pula diberi teguran. Itu yang saya lihat. Kalau anda tak pernah melihatnya berarti anda perlu sowan ke dukuh saya, Kemusuk, Desa Mangunweni, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Hal di atas saya analogikan sebagai bentuk hierarki antara pemegang kekuasaan dan rakyat. Suatu masa ketika rakyat yang katanya dimiskinkan ol...

Tempat untuk Pura-Pura Ngopi

Kedai kopi telah menjamur di sini, Jogja . Setiap mentari menyembunyikan diri, para penikmat si hitam memikat itu mulai ramai berdatangan menuju kedai kopi tempat biasa yang mereka datangi. Tak hanya kopi yang mengundang mereka untuk kembali. Bagi aku dan beberapa dari mereka yang tidak terlalu suka kopi, suasana riuh nan menenangkanlah yang buatku mampir. Canduku bermula dari ajakan seseorang. Kali ini mungkin aku tidak banyak menceritakan mengenai sosok laki-laki yang membuatku berdebar hati. Seseorang itu bernama nurrahmawati, salah seorang senior di Poros, persma yang kini tengah aku tekuni. Nur mengajakku pertama kali ke Lembayug kala itu ketika baru sekitar dua bulan aku menjadi penghuni Jogja sebagai kaum urban. Tak hanya berdua, beramai-ramai kami menyambangi kedai kopi yang jaraknya tak terlalu jauh dari tempat kosku. Seperti biasa, setiap awal yang baru selalu membutuhkan adaptasi supaya tidak sensi dengan orang-orang yang tak kuduga dapat kutemui. Perasaan takut, ge...

I

This is me, my old brother, and my old sister. This photo was taken at my home when I’d Fitri two years ago. The boy in the right of me is my oldest brother, his name is Oki Sutanto. He is very handsome, diligent, smart, and very wise. He is a dreamer husband for me in the future. His hobby is hangout with his friends in motorcycle community. The girl in the left of me is my old sister, her name is Yuli Sutanti. She is very kind and cheerful. But sometimes she look like a boy. Her hobby is riding a big motorcycle and travelling with that. She is a member of motorcycle community, too, like my oldest brother. Most of the people was thinking that I and she is a twins sister because of our face. But, we were not. We only look same because the age distance between us only two years. And I is youngest child in my family. Both of my old brother and my old sister working in Cikarang for now. They only return to the hometown once a year. So, I miss them so much right now. They of...

Buah Sajakku

Dalang Penabur Gula Oleh: Yosi Sulastri Merdeka! Merdeka! Merdeka! Itu ucapan mereka, Sekerumunan semut yang datang menggerumuti gula. Gula ditebar tepat di depan muka mereka. Bersimpati kepada pemerintah solah mereka menderita. Iya, menderita karena kepemimpinan seseorang “di sana”. Katanya, Turunkan si dia! Turunkan si dia! Turunkan si dia! Lagi-lagi itu ucapan mereka, Semut-semut yang berdatangan mendekati gula. Janji manis dari sosok gelap di belakang kamera, Layar besar berkaca namun tak tampak siapa dalangnya, Iya, ialah ia yang menebar gula kepada para rakyat yang sengsara. Karena sejarah politik hitam bangsanya. Semut-semut itu kini telah berbaris rapi. Beradu lakon, berisak tangis, dan memeras iba dengan membawa bayi. Berjalan menyusuri aspal panas siang hari. Berbekal semangat dengan manisnya gula yang akan mereka dapati. Hingga sampailah di depan gedung utama negeri ini. Berorasi, berargumentasi, bernegosi...

Budaya Kepungan Sego Tawon

(Desa Mangunweni, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen) Budaya Kepungan Sego Tawon Nama : Yosi Sulastri NIM    : 1714025008 Prodi : Sastra Indonesia Tugas Mata Kuliah Sastra Melayu Lama UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN YOGYAKARTA September 2017 BUDAYA KEPUNGAN SEGO TAWON A.   Definisi Budaya Kepungan Sego Tawon Dalam sebuah acara hajatan, tuan rumah pasti menginginkan hari pelaksanaan berjalan dengan lancar. Tak hanya itu saja, tuan rumah juga berharap tamu yang datang akan melimpah ruah sehingga hidangan apapun yang telah disiapkan tidak terbuang percuma. Hal ini menciptakan sebuah tradisi “tersendiri” yang dilakukan sebelum hari pelaksanaan hajatan itu tiba. Tradisi yang dimaksud adalah kepungan 1 dengan sebuah tumpeng yang disebut sego tawon . Kepungan ini b...