Anne of Avonlea: Representasi Karya Bildungsroman-Perempuan Awal Abad Ke-20 Judul: Anne of Avonlea Penulis: Lucy Maud Montgomery Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit: 2018, cetakan ke-5 (Juni 2026) Jumlah hlm: 344 “... how terrible it would be to be doing something you didn’t like every day....” (Montgomery: 2018, 48) Anne Shirley bukan lagi gadis remaja. Di dalam novel “Anne of Avonlea”, ia sudah menjelma menjadi perempuan dewasa yang telah berprofesi sebagai guru. Bagian kisah yang dikembangkan oleh penulis merupakan perkembangan dari proses pendewasaan tokoh utama di dalam novel. Mengikuti kisah Anne dalam sekuel kedua di seri buku “Anne” membawa saya pada satu genre yang kentara, yakni aliran bildungsroman-perempuan (female bildungsroman genre atau the frauenroman). Montgomery sudah konsisten menempatkan Anne sejak buku pertama sebagai sosok yang senantiasa bertumbuh dan berubah. Anne dalam buku kedua ini tampak berbeda dengan kesan Anne yang saya tangkap dalam ...
“Mbak Yos, menurutmu aku narsistik tidak?” Saya ingat dengan pertanyaan itu. Jawaban saya saat itu adalah asal bunyi, “Tidak. Menurutku kamu tidak narsistik. Buktinya kamu masih ‘punya’ telinga untuk mendengar. Kamu masih memberi ruang untuk orang lain berbicara dan menyampaikan apa yang dirasa--tanpa memotong seketika.” Tak berselang lama setelah kejadian itu, saya menemukan buku ini dengan tanpa sengaja. Ketika dibaca lebih jauh, pra-anggapapan saya perihal ciri-ciri orang narsistik ternyata setali tiga uang dengan jawaban yang saya sampaikan pada kejadian itu. Buku karya Dr. Ramani Durvasula memberi saya gambaran utuh, rinci, detail, dan analitk serta mudah diikuti. Konsep yang dituangkan oleh penulis yang sudah menelusuri kasus narsisme ini sungguh membumi. Rasanya seperti sedang diajak untuk lebih mengenal diri saya sendiri. Narasi atas kasus-kasus yang bersinggungan dengan orang narsistik ternyata ampuh menggiring saya pada kebijaksanaan, ketenangan, dan kesepahaman bahwa b...