Langsung ke konten utama

Belajar dari Sorgum dan Masa Depan Pangan Nasional



 Judul          : Sorgum: Benih Leluhur untuk Masa Depan

Penulis          : Ahmad Arif

Penerbit                : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) bekerja sama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI)

Tahun terbit         : 2020 (Cetakan ketiga, Juni 2025)

Jumlah halaman : xii + 148 


“Kearifan petani telah dimatikan dengan penyeragaman. Kemandirian telah digantikan dengan ketergantungan.”[1]

 

Buku ini menjadi perkenalan lanjutan tentang sorgum. Ketertarikan untuk membaca “sorgum” semakin menguat setelah awal November lalu mengikuti kuliah umum yang disampaikan oleh Ahmad Arif, M.Si. dengan tema “Mengelola Pengetahuan Tradisional Menjadi Kekuatan Budaya untuk Keberlanjutan Masa Depan”.[2] Meski tema kuliah umum hari itu tidak langsung menyoroti sorgum, ternyata pangan lokal ini bisa sekali dijadikan sumber penganan untuk Indonesiakhususnya daerah-daerah di sisi selatan garis khatulistiwa yang cenderung kering.

Penyajian pembahasan dalam buku ini sangat mudah dan enak sekali untuk diikuti. Sejak membaca sekilas di toko buku, hingga telah menamatkan, saya sungguh menikmati proses membacanya. Ahmad Arif menguraikan perihal sorgum dengan gaya naratif seakan sedang membaca karya sastra. Pengalamannya di dunia jurnalistik sebagai penulis feature itulah yang semakin membuat buku ini sungguh bisa dinikmati. Saya tidak begitu terganggu dengan teknik penulisan dan alur penceritaan yang dilakukan oleh penulis. 

Namun, yang justru sangat mengusik saya adalah kondisi pangan di Indonesia. Pertanian monokultur yang fokus pada komoditas padi ternyata mengarah pada kondisi yang buruk. Kelangkaan sumber pangan lokal menjadi akibat dari bias padi di Indonesia. Sorgum sebagai salah satu sumber pangan pun menjadi korban penggusuran.

Sorgum mengalami dua bentuk penggusuran. Pertama, masyarakat meninggalkan sorgum karena tergerus oleh penyeragaman sumber pangan hanya dari padi. Bahkan, saat ini pergeserannya sudah lebih parah lagi. Sumber pangan yang mayoritas dikonsumsi di Indonesia sudah mengarah ke gandum. Ada begitu banyak produk olahan dari terigu tersebar di masyarakat, bahkan hingga ke pelosok-pelosok daerah. Kondisi ini mesti dibayar dengan bergantungnya sumber pangan pada komoditas impor. Penganan lokal seperti sorgum yang sebenarnya lebih kaya mikronutrien akhirnya tergerus oleh karbohidrat tinggi gula dan gluten. Penggusuran ini berpotensi mengancam keberlanjutan keanekaragaman sumber pangan lokal di Indonesia. 

 

“... candu gandum lebih membahayakan karena akan membuat kita makin bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan pangan.” (Arif, 2025: 53)

 

Bentuk penggusuran kedua pada sorgum adalah upaya sistematis yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Pada kesempatan yang berbeda, sebuah diskusi lintas disiplin yang diselenggarakan oleh Lembaga Riset Internasional (LRI) IPB University juga membahas secara khusus dalam diskusi Transfomasi Sistem Pangan: Tantangan dan Peluang. Seorang pembicara, David Ardhian, M.Si., membahas tentang hambatan struktural dalam transformasi sistem pangan di Indonesia.[3] Melalui lembaga riset yang ia kembangkan, ada ditemukan bahwa kondisi pangan yang terjadi tidak terlepas dari bentuk sistemik kebijakan politik di Indonesia. 

 

“Hilangnya keanekaragaman hayati untuk pangan dan pertanian berisiko membahayakan ketahanan pangan dan nutrisi.” (Arif, 2025: 57)

 

Ada bagian dalam buku ini yang menceritakan tentang penggusuran lahan pertanian sorgum. Area itu sudah siap panen dalam waktu dekat, tetapi kemudian digusur oleh pemerintah. Alasannya adalah sebagai pelaksana program nasional berupa pencetakan sawah. Ketika membaca kisah itu, saya merasa gusar sekali dengan pola pikir pemerintahtermasuk pelaku-pelaku penggusuran itu. Bagaimana bisa mereka tidak melihat potesi di depan mata? Apakah sorgum benar-benar tidak terlihat? Apakah sorgum tidak dianggap sebagai sumber pangan yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia?

Penggusuran sorgumdan sumber pangan lokal lainnyamerupakan dampak sistematis dari kebijakan pangan nasional di Indonesia. Sepertinya perlu sekali orang-orang di pemerintahan “dibangunkan” dan “disadarkan” tentang potensi sumber pangan lokal di Indonesia yang tidak melulu padi, kalau kata orang Batak “mardebatahon eme”. Tampak berat dan penuh tantangan. Akan tetapi, jika penggusuran pangan lokal terus dilakukan pemerintah, bukan tidak mungkin bahwa Indonesia akan mengalami krisis pangan. Lantas, bisakah sorgum menjadi jawaban untuk ketahanan pangan di masa depan?

Mari diskusikan bersama di @klubbukumain2




[1]  Arif, Ahmad. 2020. Sorgum: Benih Leluhur untuk Masa Depan. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
bekerja sama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI). Hlm 38.

[2]  General Lecture CTSS IPB University. 01 November 2025. Merajut
Wajah Negeri, Memperkokoh Jati Diri. Ruangan
EDTC PKSPL, IPB Baranangsiang, Bogor dan Zoom Meeting yang disiarkan melalui
YouTube CTSS IPB University:
https://www.youtube.com/live/hNEElu9XzfM?si=BNPHFHRj-l2yRBJf.

[3]  LRI Talk #2. 10 November 2025. Transfomasi Sistem
Pangan: Tantangan dan Peluang.
Zoom Meeting yang disiarkan melalui YouTube CTSS IPB University.
https://www.youtube.com/live/AF9GSMzyck0?si=qwXDtTWf6Alv-SBp.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengulik Kisah di Balik Saidjah dan Adinda dalam Max Havelaar Karya Multatuli

  Nanti bangkehku di liat bidari, Pada sudarah menunjuk jari. Liat di lupa saorang mati, Mulutnya kaku cium bunga melati, "Mari kit 'angkat ia di sorga,   Kutipan itu adalah penggalan puisi “Lihatlah Bajing” yang ada di lampiran buku Max Havelaar . Melalui puisi itu saya akan menceritakan novel yang konon menjadi pembuka kran atas penderitaan pribumi Hindia awal abad ke-19 kepada dunia. Puisi itu muncul ketika Multatuli melalui komposisi Stern sedang menceritakan kisah akhir perjalanan Saidjah pada bab 17 (2022: 389). Saidjah menjadi tokoh yang sengaja dibangun Multatuli untuk memperlihatkan kondisi rakyat pribumi Hindia. Dikisahkan bahwa Saidjah merupakan seorang anak laki-laki yang pergi dari desanya di Parang Kujang karena bapaknya telah meninggal. Ia memutuskan untuk bekerja di Batavia dengan mimpi akan bisa membeli kerbau seperti yang pernah ia punya sebelumnya. Ketika memutuskan untuk merantau, ia telah terlebih dahulu berjanji pada Adinda (seorang perempua...

Kuasa Media pada Realitas Konflik Novel Anak Semua Bangsa

Kisah pada novel Tetralogi Buru II: Anak Semua Bangsa dibuka dengan bab prolog yang mengisahkan kelanjutan nasib Annelies dalam perjalanannya menjemput takdir ke Nederland. Bab pertama tersebut mengantarkan Annelies pada tidur abadinya, kematian. Dalam suasana berduka, bab-bab selanjutnya Pram tidak lagi menyoroti konflik para tokoh utama. Banyak tokoh-tokoh baru bermunculan dalam setiap bagian dari upaya Minke untuk menepis kedukaan pascakepergian Annelies. Ulasan kali ini akan fokus pada satu topik yang selalu muncul sejak awal bab dan beriringan hingga akhir, yaitu kuasa media. Novel pada tetralogi kedua ini tidak lagi menyajikan konflik batin mengenai hubungan kedirian tokoh, tetapi sudah mengarah pada permasalahan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Melalui Minke, Pram memasukkan beragam gagasan tentang bagaimana menumbuhkan kesadaran bahwa semangat Revolusi Prancis tentang kebebasan, persamaan, dan persaudaraan harus muncul dalam semangat hidup rakyat Hindia 1800-an. Period...