Langsung ke konten utama

Hak-Hak Anak dalam Realitas Novel Anne of Green Gables

Novel Anne of Green Gables karya Lucy Maud Montgomery mengajak saya meromantisasi hal-hal sederhana tetapi sungguh mewah dan istimewa bagi tokoh utama. Keluarga yang terdiri dari ibu-bapak, punya tempat tinggal yang cukup nyaman, akses bersekolah, bisa menjalin pertemanan, bebas membaca buku yang disukai—tokoh utama mengajak saya untuk melihat satu per satu hal yang ia dapatkan di kehidupan barunya. Ada banyak keseruan dari perjalanan musim demi musim yang dilalui di Green Gables. Rumah bukan sekadar bangunan, melainkan juga orang-orang yang ada di dalamnya. Anne Shirley menemukan rumah as house dan rumah as home. Dua definisi itu berhasil ia peroleh setelah melewati ketidakberterimaan dalam hidup.

Hadir di lingkungan yang tidak mengharapkan kehadirannya ternyata menyakiti Anne. Ia yang masih berusia sebelas tahun mesti mengalami penolakan meski akhirnya diterima dengan “terpaksa”. Akan tetapi, kehadiran Anne justru akhirnya menjadi hiburan dan sumber kebahagiaan bagi pasangan Cuthbert.

Pada tahun 1989, pemerintah di seluruh dunia menjanjikan hak yang sama untuk semua anak dengan mengadopsi Konvensi PBB untuk Hak-Hak Anak. Konvensi ini mengatur hal apa saja yang harus dilakukan negara agar tiap-tiap anak dapat tumbuh sesehat mungkin, bersekolah, dilindungi, didengar pendapatnya, dan diperlakukan dengan adil. Konvensi Hak-Hak Anak memiliki total 54 pasal. Pasal 43−54 berisi kerja sama yang bisa dilakukan orang dewasa dan pemerintah agar hak semua anak dipenuhi. [1]

Anak-anak berhak untuk dicintai, berhak atas rasa aman, berhak hidup layak, berhak mempunyai kesempatan bertumbuh dalam lingkungan yang baik. Sesuatu yang menurut saya adalah standar minimum, ternyata bagi Anne adalah sebuah hal yang luar biasa dan menakjubkan. Ia belajar cara mengolah diri, mengolah emosi, dan menjaga perilaku ketika berinteraksi dengan orang lain. Kecerdasan yang ia miliki semakin terpupuk karena daya dukung lingkungan yang kondusif. Perkembangan anak pun serupa dengan itu. Ia akan menjadi subur dan membuahkan hasil ketika hal-hal yang ia peroleh pun penuh dengan kebaikan.

Perasaan dicintai dan welas asih menjadi kunci tumbuh kembang Anne. Karena ia mendapatkan kasih sayang dari Matthew dan Marilla, ia pun tumbuh menjadi gadis yang penyayang dengan sesama. Ia bisa mengasihi temannya dengan tulus, ia menolong tetangganya dengan tenang, ia menanggapi celaan dengan pikiran dewasa dibanding usianya—meski tak dipungkiri banyak pula kecerobohan yang dilakukan oleh anak yang beranjak remaja tersebut.

Kisah Anne penuh dengan kejutan. Pada bab “Anne’s History” dibuat terharu, lalu bab “Diana Invited to Tea with Tragic Result” mampu bikin tertawa hingga terpingkal, kemudian bab “An Epoch in Annes Life” menjadi bentuk refleksi diri tentang segala hal yang mesti disyukuri.

Melalui 38 bab saya diajak untuk mengikuti tumbuh kembang Anne sejak ia cerabih sekali hingga bisa memaknai hidup tanpa mesti banyak bicara. Sejak ia hidup dalam keramaian kata yang ia keluarkan hingga ia mampu menahan dan mengolahnya dalam hati dan pikiran.

Novel ini mengingatkan saya pada karya-karya dari sastrawan dengan gaya penceritaan yang detail terkait penggambaran latar tempat, misalnya George Orwell dalam Burmese Days, Louisa May Alcott dalam tetralogi Little Women, atau Eric Knight dalam Lassie Come Home. Karya sejenis ini mampu membaca pembaca memasuki hutan imajinasi yang menyenangkan dan menggembirakan.

Perjalanan bermain Anne seperti nostalgia masa lalu saya karena kecil dan dibesarkan di pedesaan. Gambaran latar suasana yang dibangun oleh Montgomery mampu menghidupkan imajinasi pembaca. Tinggal di sebuah kawasan sejuk (sesejuk di kaki Gunung Merbabu), penuh dengan tanaman bebungaan (memesona seperti di perkebunan bunga Cipanas), dikelilingi oleh danau biru membentang (seindah kaldera Danau Batur, Bali), lalu pemandangan sabana yang hijau meluas (bak pemandangan agrowisata kaki Gunung Putri); semua itu menjadi ladang imajinasi bagi tumbuh kembang Anne pun bagi pembaca yang mengikuti kisahnya dalam novel yang ditulis oleh sastrawan Kanada ini.

Judul : Anne of Green Gables

Penulis : L.M. Montgomery

Tahun Terbit : 2018 (cetakan kedelapan, Desember 2025)

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 

Jumlah hal : 408 halaman (18 cm)

ISBN : 978-602-03-8250-0


Mari menelisik bersama tentang semangat pemenuhan hak-hak anak yang dimunculkan dalam novel Anne of Green Gables dalam diskusi @klubbukumain2 pada Senin, 09 Februari 2026.


UNICEF. t.t. Paspor Hak Anak. Diakses pada 08 Februari 2026. https://www.unicef.org/indonesia/id/konvensi-hak-anak-versi-anak-anak

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dari Sorgum dan Masa Depan Pangan Nasional

 Judul           : Sorgum: Benih Leluhur untuk Masa Depan Penulis           : Ahmad Arif Penerbit                   : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) bekerja sama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) Tahun terbit           : 2020 (Cetakan ketiga, Juni 2025) Jumlah halaman : xii + 148  “Kearifan petani telah dimatikan dengan penyeragaman. Kemandirian telah digantikan dengan ketergantungan.” [1]   Buku ini menjadi perkenalan lanjutan tentang sorgum. Ketertarikan untuk membaca “sorgum” semakin menguat setelah awal November lalu mengikuti kuliah umum yang disampaikan oleh Ahmad Arif, M.Si. dengan tema “Mengelola Pengetahuan Tradisional Menjadi Kekuatan Budaya untuk Keberlanjutan Masa Depan”. [2] Meski tema kuliah umum hari itu tidak langsung menyoroti sorgum, ternyata pangan lokal ini bisa sek...

Mengulik Kisah di Balik Saidjah dan Adinda dalam Max Havelaar Karya Multatuli

  Nanti bangkehku di liat bidari, Pada sudarah menunjuk jari. Liat di lupa saorang mati, Mulutnya kaku cium bunga melati, "Mari kit 'angkat ia di sorga,   Kutipan itu adalah penggalan puisi “Lihatlah Bajing” yang ada di lampiran buku Max Havelaar . Melalui puisi itu saya akan menceritakan novel yang konon menjadi pembuka kran atas penderitaan pribumi Hindia awal abad ke-19 kepada dunia. Puisi itu muncul ketika Multatuli melalui komposisi Stern sedang menceritakan kisah akhir perjalanan Saidjah pada bab 17 (2022: 389). Saidjah menjadi tokoh yang sengaja dibangun Multatuli untuk memperlihatkan kondisi rakyat pribumi Hindia. Dikisahkan bahwa Saidjah merupakan seorang anak laki-laki yang pergi dari desanya di Parang Kujang karena bapaknya telah meninggal. Ia memutuskan untuk bekerja di Batavia dengan mimpi akan bisa membeli kerbau seperti yang pernah ia punya sebelumnya. Ketika memutuskan untuk merantau, ia telah terlebih dahulu berjanji pada Adinda (seorang perempua...

Tentangku, Singkat

          Hello, aku Yosi kelahiran Kebumen, 19 Juni 1999. Aku bersekolah di sekolah kejuruan yang "katanya" favorit. Hari-hariku terlewati dengan begitu banyak kisah yang menurutku menarik untuk kuceritakan. Mulai dari kisah pribadiku, keluargaku, sahabatku, sekolahku, dan impianku.