“Mbak Yos, menurutmu aku narsistik tidak?” Saya ingat dengan pertanyaan itu. Jawaban saya saat itu adalah asal bunyi, “Tidak. Menurutku kamu tidak narsistik. Buktinya kamu masih ‘punya’ telinga untuk mendengar. Kamu masih memberi ruang untuk orang lain berbicara dan menyampaikan apa yang dirasa--tanpa memotong seketika.” Tak berselang lama setelah kejadian itu, saya menemukan buku ini dengan tanpa sengaja. Ketika dibaca lebih jauh, pra-anggapapan saya perihal ciri-ciri orang narsistik ternyata setali tiga uang dengan jawaban yang saya sampaikan pada kejadian itu. Buku karya Dr. Ramani Durvasula memberi saya gambaran utuh, rinci, detail, dan analitk serta mudah diikuti. Konsep yang dituangkan oleh penulis yang sudah menelusuri kasus narsisme ini sungguh membumi. Rasanya seperti sedang diajak untuk lebih mengenal diri saya sendiri. Narasi atas kasus-kasus yang bersinggungan dengan orang narsistik ternyata ampuh menggiring saya pada kebijaksanaan, ketenangan, dan kesepahaman bahwa b...