“Mbak Yos, menurutmu aku narsistik tidak?”
Saya ingat dengan pertanyaan itu. Jawaban saya saat itu adalah asal bunyi, “Tidak. Menurutku kamu tidak narsistik. Buktinya kamu masih ‘punya’ telinga untuk mendengar. Kamu masih memberi ruang untuk orang lain berbicara dan menyampaikan apa yang dirasa--tanpa memotong seketika.”
Tak berselang lama setelah kejadian itu, saya menemukan buku ini dengan tanpa sengaja. Ketika dibaca lebih jauh, pra-anggapapan saya perihal ciri-ciri orang narsistik ternyata setali tiga uang dengan jawaban yang saya sampaikan pada kejadian itu. Buku karya Dr. Ramani Durvasula memberi saya gambaran utuh, rinci, detail, dan analitk serta mudah diikuti. Konsep yang dituangkan oleh penulis yang sudah menelusuri kasus narsisme ini sungguh membumi. Rasanya seperti sedang diajak untuk lebih mengenal diri saya sendiri. Narasi atas kasus-kasus yang bersinggungan dengan orang narsistik ternyata ampuh menggiring saya pada kebijaksanaan, ketenangan, dan kesepahaman bahwa bukan sayalah yang bermasalah--mungkin.
Judul buku ini benar-benar mewakili dan mengafirmasi bisikan hati yang dalam beberapa waktu terakhir seperti terjebak pada gelembung ruang gema. Dua bagian buku yang terdiri dari sembilan bab ternyata memang laksana tangga menuju ketenangan.
Tidak ada pemaksaaan, tidak ada penghakiman, tidak ada arogansi untuk mematahkan kehendak, tidak ada pula kesempuranaan langkah yang ditawarkan. Setiap jalan yang dipilih penyintas patut untuk dicermati, dihargai, dan didukung oleh siapa pun pihak di sekelilingnya.
Gagasan, konsep, dan langkah-metode yang ditulis oleh Durvasula terbaca realistis. Semua bentuk perasaan nyata “manusia” digambarkan apa adanya. Fase rapuh adalah hal yang wajar. Menjadi kuat adalah yel-yel yang disuarakan. Menyadari kondisi diri adalah peringatan yang selalu lembut disampaikan. Pada akhirnya, selalu ada pilihan dalam tiap proses penyembuhan.
Buku ini mengajak saya untuk kembali yakin atas keluasan perasaan yang saya alami.
“Penyembuhan tidak sebatas mengobati luka yang ada di dalam diri kita, tetapi mencegah luka di masa depan.”
(durvasula, 2025: 112)
Judul:
It’s Not You: Identifying and Healing from Narcisstic People
(Its’ Not You: Mengidentifikasi dan Memulihkan Diri dari Orang Narsistik)
Penulis: Dr. Ramani Durvasula
Penerjemah: Agung Mahesa
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama - M&C (2025); Penguin Publishing Group - The Open Field (2024)
ISBN: 978-623-03-1758-3
Pentingkah buku ini dibaca? Apakah kita dikelilingi orang narsistik? Bisakah kita mengubah mereka? Bagaimana hidup dengan orang yang telanjur narsistik dan telah lama hadir dalam hidup kita?
Mari diskusikan bersama.

Komentar
Posting Komentar