Minggu sore Rara sedang berada di area pameran. Ia datang berdua. Mereka duduk di area luar sembari melihat keramaian lokasi. Ketika Rara sedang duduk di balik batu, dari arah pukul dua tetiba tertangkap dua orang sedang berjalan mendekat. Rara kenal sekali dengan mereka, sungguh mengenalinya.
Mereka adalah Han dan Erik.
Iya, Han Revanda. Ia adalah Han. laki-laki yang sudah bertahun-tahun tidak pernah bertemu sama sekali, bahkan bertukar kabar pun nihil. Rara terkejut, dan takut. Ia takut jika harus bertemu dengan Han saat itu juga. Rara coba untuk sembunyi di balik batu besar itu, membiarkan Han dan Erik berlalu.
Seorang teman yang sebenarnya kenal dengan mereka pun Rara minta untuk tidak menegur sama sekali. Rara sembari sembunyi pula di balik tubuhnya.
***
Kegiatan di area pameran berlanjut hingga menjelang petang. Rara masih di sana meski berpindah tempat.
Perempuan itu duduk di sebuah bangku bar di sudut ruangan. Buku sudah dibuka dan mulai dibaca dengan memangkunya. Dari ekor mata sebelah kiri, Rara menangkap sosok yang sedang berjalan mendekat. Sosok yang tampak seperti seorang lelaki itu semakin mendekat dan Rara semakin mengenalinya pula.
Jantungnya berdegup kencang. Ia berdebar tak terkira. Ia ingin raib seketika, tapi tidak bisa. Tidak ada ruang untuk pergi dan sembunyi. Sosok itu semakin mendekat dan berakhir duduk di samping Rara, tepat di bangku di sampingnya.
Laki-laki itu adalah Han. Penampilannya rapi, bersih, tampan; seperti ingatan Rara terakhir kali tentangnya. Han mengenakan kaos biru muda, dengan celana berbahan jeans dan sepatu ket. Ia mendongak menatap Rara, tersenyum ramah dan manis sekali. Lalu Rara? Menangis!
Rara kikuk, bingung, dan tergugu membisu.
Han mengulurkan tangan, mereka bersalaman. Rara mencium punggung tangannya, dengan gemetar dan berdebar hebat. Han tersenyum. Air mukanya begitu tenang dan damai. Ada gurat bahagia di keseluruhan wajahnya.
Tangan mereka masih saling menggenggam. Han mendekat ke arahnya, seperti hendak mengecup kening, tetapi kemudian tertahan. Akhirnya tangannya hanya mengusap kepala. Lembut.
Rara merasakan kelembutan tangan kirinya itu, yang menyentuh ubun-ubun dan membalut lembut. Rara tidak berkutik, masih diam. Tak ada percakapan di antara mereka. Hanya saling pandang. Rara terdiam, Han tersenyum.
Rara tidak ingat kalimat apa yang ia sampaikan pada laki-laki yang tetiba muncul ke permukaan kehidupannya itu. Pun tak bisa menangkap ucapannya. Dalam beberapa waktu yang terasa begitu lama, mereka hanya dalam posisi seperti itu: duduk berhadapan, berpegang tangan, dan saling pandang.
***
Mereka beranjak pergi. Berpindah duduk di area lapang di tepian taman. Tidak lagi duduk berhadapan, tapi duduk bersebelahan. Han berada di samping kanan, tepat di sebelah Rara tanpa jeda.
Akhirnya mereka bisa berbicara dengan tenang. Rara tak lagi merasa sebegitu gugup seperti sebelumnya. Akan tetapi, Rara masih tidak bisa mengingat isi percapakan di antara mereka berdua, kecuali bilang ke Han bahwa sebenarnya saya sedang dekat dengan seseorang, yang itu adalah Tama.
Raut muka Han tidak berubah. Masih tersenyum dan tenang, seakan menyampaikan bahwa ia tak keberatan, dan menerima kondisi itu dengan lapang dada.
Tak lama setelahnya, dari arah pukul tiga tempat mereka duduk, Rara melihat Tama yang datang mendekat. Han masih duduk di samping Rara tanpa beranjak sama sekali. Kemudian tiba-tiba ia bilang, "Saya tidak menyukai Tama. bukan karena ia sedang dekat denganmu. Saya hanya tidak suka saja denganya, dengan perangainya!"
Rara masih duduk tenang di samping Han ketika Tama datang menghampiri mereka. Ia heboh, bukan karena melihat Rara sedang berduaan dengan lelaki yang belum ia kenal, melainkan heboh dengan dirinya sendiri. Tama datang dalam kondisi yang berantakan. Tangannya kotor, dan berteriak ke Rara untuk minta dibersihkan--di hadapan keramaian orang.
Rara bangkit dari tempat duduk, meraih tisu yang memang tersimpan di dalam tas. Ia usapkan tisu itu menyeluruh ke tangan Tama, hingga bersih tak tersisa noda.
Tak ada percakapan lain. Tak ada tanggapan lain.
Minggu sore pun berakhir dengan tetap sembunyi di balik batu.
Komentar
Posting Komentar