Langsung ke konten utama

Postingan

KE(M)BALI: Telah tiba pada yang kelima #1

  Tepat sebulah yang lalu pada tanggal yang sama saya memulai perjalanan ke Bali. Minggu pagi saya berangkat dari kos menuju Stasiun Yogyakarta. Saya memulai perjalanan dengan menaiki kereta bandara yang akan membawa saya ke Yogyakarta International Airport (YIA). Jadwal keberangkatan kereta bandara adalah pukul 10.20. Saya baru tiba di stasiun pukul 10.12, delapan menit sebelum kereta memulai perjalanan. Koper seberat belasan kilo yang saya bawa harus diseret dengan cepat. Gerbang masuk penumpang menuju kereta padat oleh para calon penumpang maupun para penumpang yang turun di stasiun. Saya sudah sering naik kereta (antarkota, antarprovinsi, LRT, MRT), tetapi ini kali pertama saya menaiki kereta bandara. Karena memang di tiket tidak ada nomor kursi, saya langsung menempati kursi kosong yang saya lewati. Saya duduk dengan seorang bapak-bapak yang ternyata akan pergi ke Pekanbaru bersama istri dan dua anaknya. Satu jam perjalanan di kereta kami habiskan dengan mengobrol, tak perna...

Spirit, Momen, dan Milieu dalam Burmese Days—George Orwell

  Spirit, Momen, dan Milieu dalam Burmese Days —George Orwell Ada beragam cara pandang untuk melihat dan membahas karya sastra. Saya merasa sulit ketika harus menentukan melihat Burmese Days menggunakan perspektif yang mana. Apakah saya hanya melihat Burmese Days secara objektif dengan mengapresiasi keindahan gaya bahasa Orwell dalam menggambarkan latar suasana yang dipenuhi dengan tanaman dan bunga-bunga? Atau secara ekspresif dengan menceritakan kisah inspiratif Orwell dalam proses menulis Burmese Days ? Atau secara mimetik dengan membandingkan kondisi sosial Burma di dalam novel dengan Burma dalam realitas sosial? Atau secara pragmatik dengan melihat nilai moral dari Burmese Days dan relevansinya dengan masa kini? Mengulas Burmese Days ternyata lebih sulit daripada “perjuangan” ketika saya membaca novel pertama Eric Arthur Blair ini. Karena banyaknya hal menarik yang bisa disampaikan dan diungkap, pembahasan kali ini akan dibatasi pada munculnya disorganisasi tokoh yang...

Mengenal Isu Biopolitik Melalui Kisah WNI dari Perkawinan Campur

  Mengenal Isu Biopolitik Melalui Kisah WNI dari Perkawinan Campur Judul : Ich Komme aus Sewon (Hidup Anak Blasteran yang Enggak Ajaib-Ajaib Amat) Penulis : Katharin Stogmuller Penerbit : Buku Mojok Tahun terbit : 2021 (Cetakan ketiga, Maret 2023) Tebal buku : xii + 158 hal Senantu buku setebal 170 halaman telah selesai saya baca. Mulai duduk pada pukul 17.35 dan telah menuntaskan pada pukul 18.37. Kenapa bisa secepat itu? Mari saya ceritakan terlebih dahulu isi bukunya. Buku berjudul Ich Komme aus Sewon yang bisa diartikan menjadi "Saya Berasal dari Sewon" ini ditulis oleh Katharina a.k.a seorang anak dari orang tua perkawinan campur (Indonesia-Austria). Pembagian bab dari tulisan Mbak Kathi dibagi ke dalam tiga bab, yaitu "Pada Suatu Hari", "Keluarga yang Biasa Saja", dan "Menikmati Kerumitan-Kerumitan Duniawi". Tidak ada keterangan apakah pembagian bab tersebut mengikuti perkembangan fase kehidupan penulis. Akan tetapi, setelah ...

Mengulik Kisah di Balik Saidjah dan Adinda dalam Max Havelaar Karya Multatuli

  Nanti bangkehku di liat bidari, Pada sudarah menunjuk jari. Liat di lupa saorang mati, Mulutnya kaku cium bunga melati, "Mari kit 'angkat ia di sorga,   Kutipan itu adalah penggalan puisi “Lihatlah Bajing” yang ada di lampiran buku Max Havelaar . Melalui puisi itu saya akan menceritakan novel yang konon menjadi pembuka kran atas penderitaan pribumi Hindia awal abad ke-19 kepada dunia. Puisi itu muncul ketika Multatuli melalui komposisi Stern sedang menceritakan kisah akhir perjalanan Saidjah pada bab 17 (2022: 389). Saidjah menjadi tokoh yang sengaja dibangun Multatuli untuk memperlihatkan kondisi rakyat pribumi Hindia. Dikisahkan bahwa Saidjah merupakan seorang anak laki-laki yang pergi dari desanya di Parang Kujang karena bapaknya telah meninggal. Ia memutuskan untuk bekerja di Batavia dengan mimpi akan bisa membeli kerbau seperti yang pernah ia punya sebelumnya. Ketika memutuskan untuk merantau, ia telah terlebih dahulu berjanji pada Adinda (seorang perempua...

Sejarah dan Politik Bahasa Indonesia dalam Novel Tetralogi Buru III: Jejak Langkah

  Sejarah dan Politik Bahasa Indonesia dalam Novel Tetralogi Buru III: Jejak Langkah Pembacaan yang saya lakukan pada Tetralogi Buru sudah sampai ke novel yang ketiga. Setelah dua novel sebelumnya mencoba melihat masing-masing novel dengan dua pendekatan yang berbeda (teori poskolonialisme dan identitas dalam perspektif sosiologis), pada novel ketiga ini ada hal menarik yang saya temukan, yakni tentang penggambaran fase sejarah dan politik terciptanya bahasa Indonesia dalam novel Jejak Langkah. Novel yang terdiri dari 17 bab setebal 732 halaman ini pada bab pertama sudah memberikan saya pengantar sejarah bahasa Indonesia. Pramoedya Ananta Toer sungguh pawai memberikan detail fase sejarah dalam sisipan narasi maupun dialog di dalam novel. "... koran-koran Melayu-Tionghoa tidak mengindahkan anjuran Gubermen untuk menggunakan ejaan Melayu baru susunan Ch. Van Ophuyzen. Kami tidak menggunakan bahasa Melayu sekolahan, bahasa Melayu tinggi, kata mereka." (Toer, 2020: Bab I,...

Kuasa Media pada Realitas Konflik Novel Anak Semua Bangsa

Kisah pada novel Tetralogi Buru II: Anak Semua Bangsa dibuka dengan bab prolog yang mengisahkan kelanjutan nasib Annelies dalam perjalanannya menjemput takdir ke Nederland. Bab pertama tersebut mengantarkan Annelies pada tidur abadinya, kematian. Dalam suasana berduka, bab-bab selanjutnya Pram tidak lagi menyoroti konflik para tokoh utama. Banyak tokoh-tokoh baru bermunculan dalam setiap bagian dari upaya Minke untuk menepis kedukaan pascakepergian Annelies. Ulasan kali ini akan fokus pada satu topik yang selalu muncul sejak awal bab dan beriringan hingga akhir, yaitu kuasa media. Novel pada tetralogi kedua ini tidak lagi menyajikan konflik batin mengenai hubungan kedirian tokoh, tetapi sudah mengarah pada permasalahan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Melalui Minke, Pram memasukkan beragam gagasan tentang bagaimana menumbuhkan kesadaran bahwa semangat Revolusi Prancis tentang kebebasan, persamaan, dan persaudaraan harus muncul dalam semangat hidup rakyat Hindia 1800-an. Period...