Langsung ke konten utama

Mengenal Isu Biopolitik Melalui Kisah WNI dari Perkawinan Campur

 Mengenal Isu Biopolitik Melalui Kisah WNI dari Perkawinan Campur


Judul : Ich Komme aus Sewon (Hidup Anak Blasteran yang Enggak Ajaib-Ajaib Amat)

Penulis : Katharin Stogmuller

Penerbit : Buku Mojok

Tahun terbit : 2021 (Cetakan ketiga, Maret 2023)

Tebal buku : xii + 158 hal


Senantu buku setebal 170 halaman telah selesai saya baca. Mulai duduk pada pukul 17.35 dan telah menuntaskan pada pukul 18.37. Kenapa bisa secepat itu? Mari saya ceritakan terlebih dahulu isi bukunya.

Buku berjudul Ich Komme aus Sewon yang bisa diartikan menjadi "Saya Berasal dari Sewon" ini ditulis oleh Katharina a.k.a seorang anak dari orang tua perkawinan campur (Indonesia-Austria). Pembagian bab dari tulisan Mbak Kathi dibagi ke dalam tiga bab, yaitu "Pada Suatu Hari", "Keluarga yang Biasa Saja", dan "Menikmati Kerumitan-Kerumitan Duniawi". Tidak ada keterangan apakah pembagian bab tersebut mengikuti perkembangan fase kehidupan penulis. Akan tetapi, setelah selesai membaca saya jadi bisa melihat pola pembagian tersebut. 

Pada bab pertama, buku yang telah dicetak tiga  kali ini menceritakan masa kecil (bahkan sebelum Kathi ada). Kisah tentang pertemuan ayah dan ibunya menjadi subbab pertama yang diceritakan penulis. Setelah itu, kisah berlanjut pada masa kanak-kanak yang ternyata sudah sampai pada konflik identitas. Ejekan "Londho" sudah diterima Mbak Kathi bahkan sejak ia kanak-kanak. Di dalam bukunya, alumnus Hukum Atma Jaya ini juga menceritakan tentang beberapa teman yang ia kenal sedari kecil, diceritakan pula tentang "teman" yang selalu mengejeknya karena ia berbeda. 

Ya, Mbak Kathi memang berbeda. Ia terlahir dengan menuruni ras kaukasia dari ayahnya. Saya tidak tahu apakah ibunya sebenarnya memiliki garis keturunan ras kulit putih atau tidak. Secara sepintas, tampilan Mbak Kathi, ya, memang berbeda. Perbedaan yang tampak itulah yang menjadikan dirinya serasa asing sejak dini. 

Beranjak menuju bab kedua, Katharina Stogmuller mulai menuliskan cerita-cerita unik, lucu, konyol, dan cukup menggelitik. Tulisan-tulisan pada bab ini lebih banyak mengulas kehidupan remaja menuju dewasa awal. Mbak Kathi juga mulai menceritakan tentang pengalaman-pengalaman ketika menempuh pendidikan strata satu di universitas yang ada di D.I.Y. Kisah-kisah lucu dan konyol berani dituliskan Mbak Kathi. Membaca bab ini, saya merasakan perasaan "malu" yang disampaikan pula oleh penulis pada sebuah judul “Ayam Geprek Bu Rum”.. 

Masuk ke bab ketiga sekaligus pemungkas, saya sudah mulai melihat moral value yang ingin diungkapkan dari buku Ich Komme aus Sewon. Konflik yang ditulis bukan lagi konflik internal, melainkan sudah pada konflik yang melibatkan negara. Penulis mengutarakan dengan lugas pengalaman dan perjuangan yang harus ia hadapi. 

Tidak sendiri, Mbak Kathi adalah satu dari sekian banyak anak keturunan perkawinan campur yang juga mengalami hal serupa. Perjuangan para keturunan perkawinan campur adalah tentang kewarganegaraan. Saat ini kata Mbak Kathi sudah lebih baik, yaitu semenjak dikeluarkannya UU NO 12 tahun 2006. Sebelum adanya kebijakan tersebut, Kathi harus memperpanjang izin tinggal di Indonesia karena ia tidak diakui berkewarganegaraan Indonesia. Hal itu ada hubungannya dengan asas hukum ius sanguinis (kelahiran dari orang tua yang sudah warga negara)  yang dianut negara Indonesia bahwa garis keturunan seorang anak mengikuti garis keturunan ayahnya. Karena ayah Kathi berkewarganegaraan Austria, ia pun otomatis menjadi warga negara Austria meskipun ibunya adalah WNI. 

Selain mengenai izin tinggal dan status kewarganegaraan, hal yang tidak terlewat diceritakan oleh penulis adalah tentang izin kepemilikan tanah. Mbak Kathi dan semua orang keturunan (Indonesia dan WNA) tidak bisa memiliki tanah dengan Sertifikat Hak Milik (SHM). Mereka hanya bisa menempati tanah dengan Hak Guna Bangunan (HGB). Memperbincangkan perihal agraria di Yogyakarta jadi hal yang lebih ribet lagi. Konflik mengenai UU Keistimewaan dan UU Agraria pun menjadi konflik eksternal yang harus selalu dihadapi dan diperjuangkan oleh Kathi dan orang-orang sepertinya.

Diskusi #63 @klubbukumain2

Pada Senin, 21 Agustus 2023, saya berkesempatan untuk berdiskusi dan membahas langsung buku Ich Komme aus Sewon bersama Katharina Stogmuller. Pada diskusi yang diadakan oleh Klubbukumain2, tema yang diangkat adalah "Benarkah Bule Berkasta Lebih Tinggi?". Pertanyaan dari tema itu sebenarnya sudah dapat langsung terjawab sejak diskusi dibuka. Akan tetapi, bukan tugas saya dan Anda yang menjawabnya, melainkan tugas kita semua. Jika saya dan Anda sudah bisa menjawab "tidak" untuk pertanyaan itu, berarti kita memang sudah selesai. 


Dokumentasi diskusi klubbukumain2 (21/08/2023)

Namun, realitas yang dialami oleh Kathi sebagai anak campuran Indonesia-Austria tidak menunjukkan hal itu. Budaya hasil warisan kolonialisme yang menyebabkan Kathi mengalami pelabelan bahwa ia seakan-akan lebih unggul dari orang yang bukan anak campuran. Jika kita meniliknya dari sudut pandang antropologi budaya, kita tentu sudah khatam bahwa sejak masa penjajahan di Asia atau Afrika, ras kaukasoid adalah penjajahnya. Bangsa Eropa dan Inggris pada abad 18 melakukan ekspansi besar-besaran. Hindia (baca: Indonesia saat itu) merupakan wilayah yang mengalami penjajahan dari bangsa kulit putih. Memori dan sejarah penjajahan itu yang memengaruhi pola pikir serta pra-anggapan yang masih hidup di lingkungan masyarakat Indonesia bahwa memang sudah semestinya warga Indonesia lebih rendah, WNA (bule kulit putih) lebih tinggi kedudukannya. 

Misi menyadarkan melalui tulisan itulah yang dibawa oleh Katharina di dalam bukunya. Kesadaran mengenai kesetaraan itu bisa terpantik dari buku yang bisa selesai dibaca sekali duduk. Penulis menceritakan pengalaman, perjuangan, dan peng-asing-an sebagai individu yang melekat HAM di dalamnya. 

Isu mengenai kewarganegaraan juga mengingatkan saya pada konsep yang ditulis Giorgio Agamben di dalam Homo Sacer: Kekuasaan Tertinggi dan Kehidupan Telanjang. Agamben menyebut istilah biopolitik pada seorang individu manusia yang berkaitan dengan konstitusi negara. Sebuah kekuasan tertinggi (baca: negara) mampu memangkas hak-hak individu melalui biopolitik tersebut. Hukum baru mengenai kewarganegaraan dan denasionalisasi warga negara juga tidak bisa dilepaskan dari sistem politik negara-negara modern yang langsung mengurus kehidupan biologis bangsa sebagai salah satu tugas utama (Agamben, 2020: 266–267). 

Kenapa hal serumit itu masih muncul pada negara-negara modern? 

Itulah pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya setelah selesai mengikuti diskusi bersama penulis Ich Komme aus Sewon.

Jawaban dari pertanyaan di pembuka tulisan ini bisa dibuktikan dan diketahui setelah Anda berkesempatan membaca buku Mbak Kathi. Jadi, selamat membaca!


Yogyakarta, 22 Agustus 2023

Sumber referensi:

Stogmüller, Katharina. 2021. Ich Komme aus Sewon (Hidup Anak Blasteran yang Enggak Ajaib-Ajaib Amat). Yogyakarta: Penerbit Buku Mojok.

Agamben, Giorgio. 2020. Homo Sacer: Kekuasaan Tertinggi dan Kehidupan Telanjang. Yogyakarta: Penerbit Ircisod.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dari Sorgum dan Masa Depan Pangan Nasional

 Judul           : Sorgum: Benih Leluhur untuk Masa Depan Penulis           : Ahmad Arif Penerbit                   : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) bekerja sama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) Tahun terbit           : 2020 (Cetakan ketiga, Juni 2025) Jumlah halaman : xii + 148  “Kearifan petani telah dimatikan dengan penyeragaman. Kemandirian telah digantikan dengan ketergantungan.” [1]   Buku ini menjadi perkenalan lanjutan tentang sorgum. Ketertarikan untuk membaca “sorgum” semakin menguat setelah awal November lalu mengikuti kuliah umum yang disampaikan oleh Ahmad Arif, M.Si. dengan tema “Mengelola Pengetahuan Tradisional Menjadi Kekuatan Budaya untuk Keberlanjutan Masa Depan”. [2] Meski tema kuliah umum hari itu tidak langsung menyoroti sorgum, ternyata pangan lokal ini bisa sek...

Mengulik Kisah di Balik Saidjah dan Adinda dalam Max Havelaar Karya Multatuli

  Nanti bangkehku di liat bidari, Pada sudarah menunjuk jari. Liat di lupa saorang mati, Mulutnya kaku cium bunga melati, "Mari kit 'angkat ia di sorga,   Kutipan itu adalah penggalan puisi “Lihatlah Bajing” yang ada di lampiran buku Max Havelaar . Melalui puisi itu saya akan menceritakan novel yang konon menjadi pembuka kran atas penderitaan pribumi Hindia awal abad ke-19 kepada dunia. Puisi itu muncul ketika Multatuli melalui komposisi Stern sedang menceritakan kisah akhir perjalanan Saidjah pada bab 17 (2022: 389). Saidjah menjadi tokoh yang sengaja dibangun Multatuli untuk memperlihatkan kondisi rakyat pribumi Hindia. Dikisahkan bahwa Saidjah merupakan seorang anak laki-laki yang pergi dari desanya di Parang Kujang karena bapaknya telah meninggal. Ia memutuskan untuk bekerja di Batavia dengan mimpi akan bisa membeli kerbau seperti yang pernah ia punya sebelumnya. Ketika memutuskan untuk merantau, ia telah terlebih dahulu berjanji pada Adinda (seorang perempua...

Kuasa Media pada Realitas Konflik Novel Anak Semua Bangsa

Kisah pada novel Tetralogi Buru II: Anak Semua Bangsa dibuka dengan bab prolog yang mengisahkan kelanjutan nasib Annelies dalam perjalanannya menjemput takdir ke Nederland. Bab pertama tersebut mengantarkan Annelies pada tidur abadinya, kematian. Dalam suasana berduka, bab-bab selanjutnya Pram tidak lagi menyoroti konflik para tokoh utama. Banyak tokoh-tokoh baru bermunculan dalam setiap bagian dari upaya Minke untuk menepis kedukaan pascakepergian Annelies. Ulasan kali ini akan fokus pada satu topik yang selalu muncul sejak awal bab dan beriringan hingga akhir, yaitu kuasa media. Novel pada tetralogi kedua ini tidak lagi menyajikan konflik batin mengenai hubungan kedirian tokoh, tetapi sudah mengarah pada permasalahan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Melalui Minke, Pram memasukkan beragam gagasan tentang bagaimana menumbuhkan kesadaran bahwa semangat Revolusi Prancis tentang kebebasan, persamaan, dan persaudaraan harus muncul dalam semangat hidup rakyat Hindia 1800-an. Period...