Langsung ke konten utama

Mengulik Perkembangan AUD dari Perspektif Ibu-Pekerja

Mengulik Perkembangan AUD dari Perspektif Ibu-Pekerja




“Menikah, Apakah Harus Memiliki Anak?” Itu adalah pertanyaan prolog yang dibahas oleh penulis dalam buku Perkembangan Anak Usia Dini: Tinjauan Praktis Seorang Ibu Bekerja. Pertanyaan di awal bab itu menjadi pemantik yang cukup bikin saya penasaran dan ingin pula membicarakannya dengan calon pasangan saya di masa depan. Perlu ada kesatupaduan tentang tujuan dan ekspektasi bersama--yang kalau saat ini saya ditanya, akan saya jawab bahwa saya ingin menjadi seorang ibu.

Awalnya saya tidak begitu menangkap arah dari pembahasan yang coba digiring oleh penulis sejak bab awal. Kenapa buku tentang “perkembangan anak usia dini” membahas sejak prakonsepsi adanya anak? 

Kemudian, saya teringat tentang buku lain yang setali tiga uang dengan bab pertama dalam buku ini, yakni Prakonsepsi Sehat Bayi Lahir Sehat (Ayudia, F., 2022; Bintang Semesta Media). Buku tersebut membahas berbagai aspek penting yang perlu diperhatikan sebelum kehamilah, seperti prakonsepsi, status gizi, nutrisi, dan kesehatan secara umum. Buku tersebut juga menguraikan panduan lengkap dan praktis bagi calon ayah dan ibu yang ingin memiliki anak. 

Sepasang suami-istri mengonsepsikan dan/atau menggagas “anak” sejak masih dalam pikiran dan alam bawah sadar mereka. Tumbuh kembang anak sebenarnya telah bermula sejak saat itu. Sudah terbentuk sejak istri--yang didukung suami--melakukan program hamil. Itulah kenapa ada istilah trauma dalam kandungan yang tanpa sadar terbawa hingga si bayi itu terlahir ke dunia. Tanpa ia tahu, ternyata ia membawa trauma masa kandungan ketika si ibu mengandungnya. Biasanya terjadi tanpa benar-benar tahu apa yang menjadi pemicu perasaan traumatis itu.

Beralih ke buku yang saya bahas kali ini, penulis yang merupakan seorang ibu-pekerja (dosen di sebuah universitas) bercerita tentang pengalamannya menjalani peran ibu. Pengalaman dari kisah-kisah perjalanan penulis dalam menjadi ibu-pekerja sungguh bisa memberi saya gambaran. Penulis secara terbuka dan jujur bercerita tentang pengalaman pribadi yang ia rasakan. Masing-masing bab dilengkapi pula dengan analisis dan bukti ilmiah dari penelitian yang telah disarikan. Beberapa bab ada juga yang menjawab pertanyaan seputar pengasuhan anak, yang disertai dengan tip dan langkah yang bisa coba dilakukan. 

Buku ini laksana pintu gerbang bagi siapa pun yang bercita-cita menjadi ibu, baik ibu-pekerja maupun ibu rumah tangga. Melalui buku ini pula saya kembali disadarkan bahwa peran pengasuhan anak tidak bisa hanya dipegang oleh sosok ibu. Kehadiran sosok ayah ternyata mengambil peran yang justru mendominasi. Pada tiap bab di dalam buku ini misalnya, setiap hal dan/atau aktivitas yang dilakukan dan dipilih oleh ibu-pekerja pasti selalu melibatkan peran ayah. Lebih jauh dari itu, penulis juga mengungkapkan dengan tersurat tentang kebutuhan alami anak tentang kehadiran sosok ayah dalam proses tumbuh kembang, apalagi dalam fase perkembangan anak usia dini. 

Oleh karena itu, saya jadi paham dengan arah yang coba dibawa oleh penulis sejak bab pertama ia memulai menyusun buku ini. Keputusan untuk memiliki anak adalah hasil buah pikir dan buah cinta sepasang suami-istri. Proses hamil, melahirkan, menyusui memang dilakukan oleh ibu; tetapi perjalanan dalam menempuh tiap proses itu mesti pula dibarengi dengan peran ayah. Tidak ada maksud untuk mendiskreditkan peran masing-masing. Hal yang justru ingin disampaikan oleh penulis, setelah saya selesai membaca buku ini, justru saling menghargai, menoleransi, dan tenggang rasa atas keputusan bersama itulah yang perlu senantiasa disadari dan ditumbuhkan bersama. Tentunya akan lebih kompleks lagi pada implementasinya, apalagi bagi ibu yang mempunyai kondisi harus menjadi ibu-pekerja.

Bagaimana pasangan saat ini  menyikapi kompleksitas tumbuh kembang anak usia dini? Sudahkah kita mampu menanyakan pada diri sendiri terkait kesiapan dan kematangan emosional dalam menghadapi fase hidup itu? Adakah langkah mitigasi yang bisa diambil bagi kita yang berencana untuk memiliki anak? Pelajaran apa yang bisa diambil melalui buku ini?

Mari bahas dan diskusikan bersama. 

@klubbukumain2

Senin, 27 April 2026


Judul                : Perkembangan Anak Usia Dini

Penulis            : Wilda Fasim Hasibuan

Tahun terbit    : November 2022

Penerbit            : Bintang Semesta Media

Jumlah hlm    : x + 157






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dari Sorgum dan Masa Depan Pangan Nasional

 Judul           : Sorgum: Benih Leluhur untuk Masa Depan Penulis           : Ahmad Arif Penerbit                   : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) bekerja sama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) Tahun terbit           : 2020 (Cetakan ketiga, Juni 2025) Jumlah halaman : xii + 148  “Kearifan petani telah dimatikan dengan penyeragaman. Kemandirian telah digantikan dengan ketergantungan.” [1]   Buku ini menjadi perkenalan lanjutan tentang sorgum. Ketertarikan untuk membaca “sorgum” semakin menguat setelah awal November lalu mengikuti kuliah umum yang disampaikan oleh Ahmad Arif, M.Si. dengan tema “Mengelola Pengetahuan Tradisional Menjadi Kekuatan Budaya untuk Keberlanjutan Masa Depan”. [2] Meski tema kuliah umum hari itu tidak langsung menyoroti sorgum, ternyata pangan lokal ini bisa sek...

Hak-Hak Anak dalam Realitas Novel Anne of Green Gables

N ovel Anne of Green Gables karya Lucy Maud Montgomery mengajak saya meromantisasi hal-hal sederhana tetapi sungguh mewah dan istimewa bagi tokoh utama. Keluarga yang terdiri dari ibu-bapak, punya tempat tinggal yang cukup nyaman, akses bersekolah, bisa menjalin pertemanan, bebas membaca buku yang disukai—tokoh utama mengajak saya untuk melihat satu per satu hal yang ia dapatkan di kehidupan barunya. Ada banyak keseruan dari perjalanan musim demi musim yang dilalui di Green Gables. Rumah bukan sekadar bangunan, melainkan juga orang-orang yang ada di dalamnya. Anne Shirley menemukan rumah as house dan rumah as home . Dua definisi itu berhasil ia peroleh setelah melewati ketidakberterimaan dalam hidup. Hadir di lingkungan yang tidak mengharapkan kehadirannya ternyata menyakiti Anne. Ia yang masih berusia sebelas tahun mesti mengalami penolakan meski akhirnya diterima dengan “terpaksa”. Akan tetapi, kehadiran Anne justru akhirnya menjadi hiburan dan sumber kebahagiaan bagi pasangan Cuthb...

Mengulik Kisah di Balik Saidjah dan Adinda dalam Max Havelaar Karya Multatuli

  Nanti bangkehku di liat bidari, Pada sudarah menunjuk jari. Liat di lupa saorang mati, Mulutnya kaku cium bunga melati, "Mari kit 'angkat ia di sorga,   Kutipan itu adalah penggalan puisi “Lihatlah Bajing” yang ada di lampiran buku Max Havelaar . Melalui puisi itu saya akan menceritakan novel yang konon menjadi pembuka kran atas penderitaan pribumi Hindia awal abad ke-19 kepada dunia. Puisi itu muncul ketika Multatuli melalui komposisi Stern sedang menceritakan kisah akhir perjalanan Saidjah pada bab 17 (2022: 389). Saidjah menjadi tokoh yang sengaja dibangun Multatuli untuk memperlihatkan kondisi rakyat pribumi Hindia. Dikisahkan bahwa Saidjah merupakan seorang anak laki-laki yang pergi dari desanya di Parang Kujang karena bapaknya telah meninggal. Ia memutuskan untuk bekerja di Batavia dengan mimpi akan bisa membeli kerbau seperti yang pernah ia punya sebelumnya. Ketika memutuskan untuk merantau, ia telah terlebih dahulu berjanji pada Adinda (seorang perempua...