Adakah Kesatria Don Quixote dari La Mancha di Era Kiwari?
Ada banyak decak yang terlahir dari setiap bab. Persis seperti yang pernah saya dengar, novel The Adventures of Don Quixote memang menawan. Kisah-kisah yang tertulis dalam 22 bab sungguh menghibur sekaligus penuh haru. Memunculkan pula perenungan tentang ke-diri-an kita sebagai manusia.
Pada bab-bab awal, saya sempat merasa sendu dengan penokohan Don Quixote. Ada simbol yang saya tangkap yang bersumber dari watak dan motivasi si tokoh utama. Don Quixote atau yang sebenarnya bernama Alonzo Quixano (Don Quixada) memilih untuk menjadi gila dan bahkan dalam dunia imajiner ciptaannya. Ketika memasuki jalan pikiran Don Quixote itulah saya merasakan kesedihan yang mendalam. Perasaan sedih yang bermuara pada sepi. Pergi. Berjalan. Sendiri. Tak tentu arah.
Namun, ada pula satire akan kegilaan di kehidupan yang terjadi dalam perjalanan hidup tokoh utama. Pikirannya selalu membenarkan apa yang ia lihat, apa yang ia dengar, dan apa yang ia pikirkan meski kenyataannya ternyata jauh panggang dari api. Don Quixote seakan hidup dalam ruang gema (echo chamber). Tidak ada penampik dari apa yang ia yakini benar. Segala suara dalam ruang pikirnya seperti mendukung bahwa kebenaran memang ada dalam dirinya.
Pengawal setianya, Sancho Panza pun setali tiga uang dengan tuannya. Sudah tahu bahwa Don Quixote dicap sebagai orang gila, Sancho masih mendaku sebagai royalisnya. Ada kutipan menarik yang menampilkan betapa gilanya orang yang masih meyakini orang gila.
“Jika Don Quixote memang orang bodoh dan gila, maka pelayannya yang tahu itu tapi tetap mengikutinya pasti lebih gila dan lebih bodoh dari tuannya.” (2025: 89)
Tampilan kondisi yang muncul dari relasi antara Don Quixote dan Sancho cukup menggelitik. Saat ini tampak pula kondisi tersebut dalam dunia politik di Indonesia. Ada sosok yang merasa semuanya terkendali dan tidak masalah (hidup dalam khayalan sendiri), lalu ada pula sosok lain yang semakin meyakini keyakinan si sosok utama. Bisik-bisik di sekelilingnya semakin mengonfirmasi bahwa “baik-baik saja” memang benar-benar terjadi. Akan tetapi, ketika sosok itu mencoba keluar dari ruang gemanya, sebenarnya ada ruang-ruang lain yang sedang porak-poranda, atapnya hilang, temboknya retak, atau bahkan tanah yang diinjaknya telah amblas.
Ketidakmampuan seorang tokoh untuk keluar dari ruang gemanya sendiri bisa memunculkan kondisi berbahaya. Ancaman tidak hanya menuju si tokoh utama, tetapi mengancam pula orang-orang di sekelilingnya. Setali tiga uang dengan kegigihan Don Quixote demi petualangan kesatria yang ia yakini. Bayangannya adalah menjadi prajurit penyelamat, padahal menyelamatkan diri sendiri dari kejaran kawanan domba pun tidak bisa.
“... orang yang tidak tahu bagaimana mengatur dirinya sendiri tentu tidak tahu bagaimana mengatur orang lain.” (2025: 89)
Kisah-kisah singkat yang terbagi dalam bab-bab novel The Adventures of Don Quixote mampu membuat saya tersentak karena kekonyolan Don Quixote. Pun bisa membuat saya untuk melakukan katarsis sejenak tentang posisi manusia di era perang kognitif dalam konteks demokrasi digital, khususnya yang terjadi di Indonesia.
Adakah yang hidup seperti Kesatria Berwajah Sendu (The Knight of the Rueful Countenance) dalam era kiwari? Apakah kita hidup bak pikiran si Don Quixote? Apakah ia memang gila seperti yang orang-orang di sekelilingnya sangka? Bagaimana definisi kegilaan itu?
Judul: The Adventures of Don Quixote (Petualangan Don Quixote)
Penulis: Miguel de Cervantes
Versi terjemah: Terbitan Abridged, diadaptasi untuk anak-anak oleh Emily Underdown
Penerjemah: Mirza Syauqi Futaqi
Penerbit: Diva Press
Terbit: Februari, 2025
ISBN: 978-623-189-558-5
Mari diskusikan bersama pada diskusi @klubbukumain2. Senin, 20 April 2026.


Komentar
Posting Komentar