Langsung ke konten utama

Saya Sedang Bergantung pada Sosoknya

Saya merasa sedih ketika mendengar diagnosis setelah hasil pemeriksaan selesai. Akan tetapi, saya pun merasa tenang dalam waktu yang bersamaan karena ada seseorang yang menemani saya di ruangan itu.


Keputusan saya untuk berani memeriksakan diri adalah karena ditemani olehnya. Sejak saya banyak mengeluhkan rasa sakit ini, ia yang sedari awal sudah menawarkan diri untuk selalu menemani. Katanya, "aku siap temenin. Aku selalu coba ada buat temenin kau." 

Sejauh ini, ucapannya telah terbukti. Ia begitu sabar dan sungguh sangat sabar menghadapi saya dengan segala kesakitan yang saya keluhkan padanya. Tiap kali rasa sakit itu muncul, namanya yang selalu terpikir pertama kali. Ketika saya memintanya untuk menemani, ia sempatkan waktu yang ia miliki. Ia datang. Menemani saya. Menunggu hingga rasa sakit itu reda. Lalu, saya bisa kembali menjalani aktivitas setelah seraya dikuatkan oleh kehadirannya. Saya sungguh bergantung pada sosoknya.

Saya tak ingin lagi merasakan betapa sedihnya harus bolak-balik seorang diri. Rasanya saya semakin lemah ketika ditimpa diagnosis tentang apa yang sedang menimpa saya. Kehadiran orang lain yang menemani nyatanya bisa membagi kekhawatiran dan memecah rasa takut itu menjadi kepingan-kepingan kecil sehingga yang saya rasa sudah tak sebegitu dahsyatnya. 

Jadi, semoga ia masih bisa menemani saya hingga saya benar-benar sembuh dari sakit ini.



Saya ingin sembuh. Saya ingin selesai. 

Saya sudah lelah!


Yogyakarta, 15 Februari 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dari Sorgum dan Masa Depan Pangan Nasional

 Judul           : Sorgum: Benih Leluhur untuk Masa Depan Penulis           : Ahmad Arif Penerbit                   : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) bekerja sama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) Tahun terbit           : 2020 (Cetakan ketiga, Juni 2025) Jumlah halaman : xii + 148  “Kearifan petani telah dimatikan dengan penyeragaman. Kemandirian telah digantikan dengan ketergantungan.” [1]   Buku ini menjadi perkenalan lanjutan tentang sorgum. Ketertarikan untuk membaca “sorgum” semakin menguat setelah awal November lalu mengikuti kuliah umum yang disampaikan oleh Ahmad Arif, M.Si. dengan tema “Mengelola Pengetahuan Tradisional Menjadi Kekuatan Budaya untuk Keberlanjutan Masa Depan”. [2] Meski tema kuliah umum hari itu tidak langsung menyoroti sorgum, ternyata pangan lokal ini bisa sek...

Hak-Hak Anak dalam Realitas Novel Anne of Green Gables

N ovel Anne of Green Gables karya Lucy Maud Montgomery mengajak saya meromantisasi hal-hal sederhana tetapi sungguh mewah dan istimewa bagi tokoh utama. Keluarga yang terdiri dari ibu-bapak, punya tempat tinggal yang cukup nyaman, akses bersekolah, bisa menjalin pertemanan, bebas membaca buku yang disukai—tokoh utama mengajak saya untuk melihat satu per satu hal yang ia dapatkan di kehidupan barunya. Ada banyak keseruan dari perjalanan musim demi musim yang dilalui di Green Gables. Rumah bukan sekadar bangunan, melainkan juga orang-orang yang ada di dalamnya. Anne Shirley menemukan rumah as house dan rumah as home . Dua definisi itu berhasil ia peroleh setelah melewati ketidakberterimaan dalam hidup. Hadir di lingkungan yang tidak mengharapkan kehadirannya ternyata menyakiti Anne. Ia yang masih berusia sebelas tahun mesti mengalami penolakan meski akhirnya diterima dengan “terpaksa”. Akan tetapi, kehadiran Anne justru akhirnya menjadi hiburan dan sumber kebahagiaan bagi pasangan Cuthb...

Mengulik Kisah di Balik Saidjah dan Adinda dalam Max Havelaar Karya Multatuli

  Nanti bangkehku di liat bidari, Pada sudarah menunjuk jari. Liat di lupa saorang mati, Mulutnya kaku cium bunga melati, "Mari kit 'angkat ia di sorga,   Kutipan itu adalah penggalan puisi “Lihatlah Bajing” yang ada di lampiran buku Max Havelaar . Melalui puisi itu saya akan menceritakan novel yang konon menjadi pembuka kran atas penderitaan pribumi Hindia awal abad ke-19 kepada dunia. Puisi itu muncul ketika Multatuli melalui komposisi Stern sedang menceritakan kisah akhir perjalanan Saidjah pada bab 17 (2022: 389). Saidjah menjadi tokoh yang sengaja dibangun Multatuli untuk memperlihatkan kondisi rakyat pribumi Hindia. Dikisahkan bahwa Saidjah merupakan seorang anak laki-laki yang pergi dari desanya di Parang Kujang karena bapaknya telah meninggal. Ia memutuskan untuk bekerja di Batavia dengan mimpi akan bisa membeli kerbau seperti yang pernah ia punya sebelumnya. Ketika memutuskan untuk merantau, ia telah terlebih dahulu berjanji pada Adinda (seorang perempua...