Langsung ke konten utama

Mengapa Saya Begitu Bangga Bisa Mengenalmu?





Foto itu saya ambil ketika Royyan sedang menyampaikan laporannya di depan saya dan teman-teman yang lain. 

Ketika itu, saya enggan tuk berucap. Akan tetapi, saya punya banyak sekali hal yang mau saya sampaikan. Semoga dengan ini bisa tersampaikan ya, Yan. (Saya gengsi mau ngomong langsung di depanmu, nanti pasti tanggapannya "Iya, dong. Aku kan emang keren.😎" Persis dengan gaya emoji berkacamata itu deh ekspresinya.) Selain karena alasan itu saya menceritakan di sini juga karena ingin pamer bahwa saya telah mengenalmu.



Yan, Royyan

Yan, Yancuk!

Panggilan pertama, digunakan ketika saya sedang ingin membicarakan hal serius dan dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Panggilan kedua, digunakan ketika saya sedang merasa baik sekali dan kami akan membahas hal yang tak terlalu berat. Dua panggilan itu bisa saja berubah, tergantung suasana hati juga sih. Panggilan kedua pun biasa saya pakai ketika saya jengkel, kesal, dan sebal kepadanya. Apalagi untuk sesuatu yang, yang, yang, yang apa yaaa. Sesuatu yang... Ehm, ada deh sebuah momen yang bisa membuat saya memanggilnya seperti itu. Eheee, 

Setelah itu, baru deh saya sampaikan apa yang memang mau saya katakan.

Saya juga mau membuat pengakuan denganmu, Yan. Masih sama seperti yang saya tuliskan di laman blog saya tahun lalu, pada Maret 2020, kamu masih seperti itu. Menyikapi saya dengan begitu sabar sedangkan saya selalu masih sering membuatmu kesal! 

Maafkan saya ya, Yan. 

Kamu bosan ya ketika saya mengeluh? Bosan dan kamu tahan ya, Yan? Gapapa, sih. Itu kan tugasmu ketika menjadi orang yang ada di samping saya! Hehehe.

Meski bicaramu ketus, kamu masih bisa menenangkan saya yang sedang dalam kemelut. Sedihku pernah kau redakan, marahku pernah kau padamkan, bahagiaku pernah kau tambahkan, takutku pernah kau tenangkan, sepiku pernah kau damaikan, suntukku pernah kau pecahkan; itu karena kamu yang _"selalu coba ada buat temenin kau"_. 

Yan, Royyan, terima kasih, ya. 

Karenamu saya ngerasa aman. Meskipun ada yang kecolongan ketika sebuah tulisan telah melewati saya, kamu bisa nahan tuh tulisan. Verifikasimu juga mantap (itu sudah tugasmu, sih). Hal-hal yang tak pernah saya pertanyakan sebelumnya, kamu bisa banget nemu kesalahan. Dan itu yang masih sering kecolongan.

Saya lelah menyeimbangimu sebenarnya. Seperti sudah berlari kencang, tetapi ternyata kamu pergi pakai motor, ya meskipun motor yang kamu gunakan adalah si salju -- Tetap tidak terkejar.

Karena itu pula, saya merasa benci kepadamu. Dan marah. Dan kasihan. Dan sedih.

Seperti apa yang pernah saya rasakan pada bulan-bulan ketika kita sedang berjauhan karena PJJ. Saat itu saya di Kebumen dan kamu di Bandung. Mau marah atau kesal kaya gimana pun ga bakalan selesai. Kalau lagi di Jogja mah saya bisa dengan gamblang kalau mau marah-marah, nangis, dan berakhir minta maaf kepadamu. Kala itu cuma minta maaf lewat chat dan sebatas kalimat yang "marah-marah".

Poros gila kerja memang. Poros tak kenal libur. Saat PJJ seperti waktu itu  pun masih menerapkan kerja dari rumah dengan sistem remot.

Beberapa proyek besar pun masih berlanjut. Di samping itu, dapur redaksi pun masih terus berproduksi. Meskipun tidak bisa setiap hari menerbitkan satu tulisan, setidaknya dalam seminggu bisa terbit dua hingga tiga tulisan.

Mudah?

Tidak. Tidak sama sekali.

Rasanya sungguh berat. Bagi saya yang sudah tiga tahun di Poros pun masih merasa berat. Benar-benar banyak tantangan dan permasalahan yang baru kali ini saya temui. 

Akan tetapi, kami semua masih hidup. Masih ada. Masih terus bergerak dan berkarya. Bukan hanya sekali saya ingin berhenti dan menyerah. Bukan hanya sekali pula saya kembali bangkit karena mereka.





Namun, ada yang selalu membuat saya tersentuh dan merasa kuat ketika diri ini berpikir tak sanggup dan ingin berlari pergi. Kamu adalah salah satu alasannya, Yan!


Yogyakarta, 17 Januari 2021


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengulik Kisah di Balik Saidjah dan Adinda dalam Max Havelaar Karya Multatuli

  Nanti bangkehku di liat bidari, Pada sudarah menunjuk jari. Liat di lupa saorang mati, Mulutnya kaku cium bunga melati, "Mari kit 'angkat ia di sorga,   Kutipan itu adalah penggalan puisi “Lihatlah Bajing” yang ada di lampiran buku Max Havelaar . Melalui puisi itu saya akan menceritakan novel yang konon menjadi pembuka kran atas penderitaan pribumi Hindia awal abad ke-19 kepada dunia. Puisi itu muncul ketika Multatuli melalui komposisi Stern sedang menceritakan kisah akhir perjalanan Saidjah pada bab 17 (2022: 389). Saidjah menjadi tokoh yang sengaja dibangun Multatuli untuk memperlihatkan kondisi rakyat pribumi Hindia. Dikisahkan bahwa Saidjah merupakan seorang anak laki-laki yang pergi dari desanya di Parang Kujang karena bapaknya telah meninggal. Ia memutuskan untuk bekerja di Batavia dengan mimpi akan bisa membeli kerbau seperti yang pernah ia punya sebelumnya. Ketika memutuskan untuk merantau, ia telah terlebih dahulu berjanji pada Adinda (seorang perempua...

Belajar dari Sorgum dan Masa Depan Pangan Nasional

 Judul           : Sorgum: Benih Leluhur untuk Masa Depan Penulis           : Ahmad Arif Penerbit                   : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) bekerja sama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) Tahun terbit           : 2020 (Cetakan ketiga, Juni 2025) Jumlah halaman : xii + 148  “Kearifan petani telah dimatikan dengan penyeragaman. Kemandirian telah digantikan dengan ketergantungan.” [1]   Buku ini menjadi perkenalan lanjutan tentang sorgum. Ketertarikan untuk membaca “sorgum” semakin menguat setelah awal November lalu mengikuti kuliah umum yang disampaikan oleh Ahmad Arif, M.Si. dengan tema “Mengelola Pengetahuan Tradisional Menjadi Kekuatan Budaya untuk Keberlanjutan Masa Depan”. [2] Meski tema kuliah umum hari itu tidak langsung menyoroti sorgum, ternyata pangan lokal ini bisa sek...

Hak-Hak Anak dalam Realitas Novel Anne of Green Gables

N ovel Anne of Green Gables karya Lucy Maud Montgomery mengajak saya meromantisasi hal-hal sederhana tetapi sungguh mewah dan istimewa bagi tokoh utama. Keluarga yang terdiri dari ibu-bapak, punya tempat tinggal yang cukup nyaman, akses bersekolah, bisa menjalin pertemanan, bebas membaca buku yang disukai—tokoh utama mengajak saya untuk melihat satu per satu hal yang ia dapatkan di kehidupan barunya. Ada banyak keseruan dari perjalanan musim demi musim yang dilalui di Green Gables. Rumah bukan sekadar bangunan, melainkan juga orang-orang yang ada di dalamnya. Anne Shirley menemukan rumah as house dan rumah as home . Dua definisi itu berhasil ia peroleh setelah melewati ketidakberterimaan dalam hidup. Hadir di lingkungan yang tidak mengharapkan kehadirannya ternyata menyakiti Anne. Ia yang masih berusia sebelas tahun mesti mengalami penolakan meski akhirnya diterima dengan “terpaksa”. Akan tetapi, kehadiran Anne justru akhirnya menjadi hiburan dan sumber kebahagiaan bagi pasangan Cuthb...