Langsung ke konten utama

Cara Baru Melewati Minggu Pagi Ditemani Megahnya Merapi

 Cara Baru Melewati Minggu Pagi Ditemani Megahnya Merapi



Pagi itu saya pergi ke Warung Kopi Klotok. Pukul setengah tujuh, sesuai dengan rencana, saya berangkat. Lokasinya cukup jauh, sekitar 40 menit dari kos saya yang berada di daerah Warungboto. Tempatnya ada di Km 16 Kaliurang. Sehari sebelumnya, ketika pergi dengan ke Ledok Sambi, sebenarnya saya melewati tempat itu, tapi tidak tahu kalau ternyata Warung Kopi Klotok itu ada di sana.

Saya kira tempatnya ada di pinggir jalan persis. Ternyata, kami harus masuk terlebih dahulu kurang lebih 200 meter dari jalan Kaliurang, melewati beberapa kedai kopi juga. Lalu ketika masuk ke area Kopi Klotok, itu berbeda dengan apa yang saya bayangkan. Saya kira tempatnya seperti tempat ngopi biasa, tempat duduk, lesehan, dan fasilitas yang "dibuat-buat".



Ketika saya masuk ke area parkir, yang saya temui hanya sebuah rumah berdominan material kayu dengan arsitektur rumah joglo. Dari luar tidak terlihat bahwa itu adalah tempat makan atau kedai. Hanya terlihat seperti rumah biasa. Tempat parkirnya pun seperti sedang parkir di samping rumah. Bedanya, di area masuk ada antrean panjang yang mengular. Mungkin pagi itu saya berada di antrean ke belasan sebelum saya masuk. Tak tebersit bahwa sebelum masuk pun saya harus mengantre. Mungkin karena hari itu adalah hari Minggu kali ya, banyak yang menghabiskan Minggu pagi di tempat itu.



Setelah dipersilakan masuk, antrean di dalam ternyata begitu panjang pula. Ada dua antrean di sana, tepat setelah pintu masuk ada beberapa menu yang sudah tersaji. Dan modelnya adalah prasmanan. Kita yang mengambilnya sendiri. Tidak ada pelayan. Seperti kita sedang di rumah. Suasananya pun mengingatkan saya dengan rumah Mbah yang ada di Banyumas. Mejanya, tiang penyangganya, tempat duduknya.

Karena saya enggan makan, akhirnya saya tidak ikut mengantre di barisan orang-orang itu. Kami langsung maju ke depan, ke arah kasir, lalu maju lagi, sampai di bagian dapur. Dan ketika di bagian dapur pun saya seperti sedang berada di rumah. Seperti dapur rumah saya, yang mungkin dalam kondisi sedang ada hajatan. Ibu-ibu, berusia liam puluhan dan beberapa pegawai laki-laki yang menangani pesanan di sana. Akhirnya, saya pesan dua porsi pisang goreng. Dan itu harus mengantre. Ada banyak pesanan yang belum selesai dimasak, padahal kualinya besar. 

Setelah itu, saya mengambil kopi yang ada di bagian depan, ruang utama, ruang pertama kali kami masuk.Langsung ambil saja dengan meminta kepada petugas yang berjaga di sana. Kami bawa kopi itu. Berjalan ke belakang. Ramai sekali. Tempat duduk di sana telah penuh. Saya terus berjalan mulai dari yang duduk di bangku-bangku dengan meja bulat. Lalu melewati orang-orang yang duduk di area belakang. Melewati gazebo. Dan ketika berjalan ke belakang lagi, areanya luas. Di samping kiri, saya melewati kebun jagung. Tanamannya sudah besar, jagungnya pun sama. Mungkin hanya menunggu beberapa minggu lagi untuk dipanen.

Setelah melewati perkebunan itu, kami berhenti di rerumputan depan sungai kecil. Ada beberapa tikar yang sudah terpasang. Ada yang masih kosong, ada pula yang sudah terisi oleh orang-orang yang telah datang sebelum kami.

Tempat yang kami pilih adalah di depan sungai persis. Apabila melihat ke utara, akan terlihat Merapi yang sedang mengintip. Apabila melihat ke arah barat, ada area perkebunan jagung. Di samping kanan menghadap ke timur, ada aliran sungai kecil yang di seberangnya sudah area perkebunan, mungkin itu sudah di luar area Kopi Klotok sih.



Anginnya bergemuruh. Menerpa tanaman jagung. Menerpa dedaunan. Menggeretakkan batang-batang pohon. Percikan air dari sungai pun terdengar, menjadi melodi dan ritme alam. Menemani saya pagi itu.

Sebelum pesanan pisang goreng datang, saya berjalan ke kebun jagung. Melihat perkebunan itu saya menjadi teringat ketika dulu masih kecil saya sering bermain di kebun. Menanam cabai, misalnya. Menanam jagung pun pernah. Dan memanennya tentunya. Ketika berjalan di area perkebunan, gemerisik daun, embusan angin, lalu bunyi lonceng, dan dentingan dari kincir angin yang sengaja digantung di area itu sungguh menenangkan.




Lalu, ketika berjalan lagi ke arah barat, menyusuri pematang, dan berbelok ke arah utara, saya disambut oleh Merapi yang masih muncul malu-malu. Ketika itu awan masih menutupi. Merapi masih bersembunyi. Ia belum menampakkan diri. Meski begitu, kaki gunungnya begitu gagah, megah, menawan, walau diselimuti awan. 

Kopi Klotok dan Pisang Goreng, Hangat Sungguh Nikmat

Setelah berkeliling, saya kembali. Pesanan pisang goreng kami telah sampai. Dua porsi pisang goreng dalam satu piring. 

Ternyata, satu porsinya hanya berisi dua pisang goreng. Saya kira satu porsinya bakalan berisi satu piring penuh pisang goreng. Dan jika dua porsi berarti bayangan saya adalah dua piring penuh pisang goreng. Dan ternyata, hanya ada empat pisang goreng. 

Sebenarnya di samping kopi ada pisang goreng, tapi gak masuk foto.
Hehehe


Tahu gitu kan saya bisa pesan lebih banyak. Mungkin, empat porsi. Jadi, saya bisa lebih puas menyantapnya.

Tadi pagi saya sudah lapar, tetapi malas untuk makan nasi. Ada sih, tebersit keinginan untuk mengantre makan. Akan tetapi, ketika melihat menunya, saya tidak terlalu bergairah. Hanya sayur lodeh, tempe goreng, mungkin gudeg, dan bacem. Ahhh, saya bosan dengan santapan itu. 

Setelah itu, kami pun menyantap pisang goreng hangat yang aromanya menarik cuping hidung saya. Ketika digigit, pisangnya begitu lembut. Aromanya semerbak. Manis. Teksturnya lucu. Saya asing dengan pisang itu. Bukan kapok, bukan raja, dan saya tidak tahu apa nama pisangnya. Mungkin pisang tanduk kali, ya? Entahlah. Saya tidak terlalu memperhatikan. Padahal, ketika saya memesan pun di sana banyak tergantung pisang yang nantinya akan digoreng. 

Dan yang unik adalah Kopi Klotok. Saya masih belum tahu apa perbedaannya. Akan tetapi, ketika dicecap, rasanya itu lebih dominan asam. Mmmm, tidak juga sih. Pahit dan manisnya tidak terlalu terasa. Seperti tidak ditambah gula, tetapi tidak terlalu pahit. 

Pukul sepuluh, saya memutuskan untuk beranjak dari tempat itu. Melewati jalan yang sama. Melewati perkebunan jagung. Beberapa gazebo. Lalu ke area parkir dan melewati pintu masuk hingga sampai di kasir. Saat itu pun saya harus mengantre, tetapi tidak banyak. Hanya dua orang di depan saya. Setelah itu bayar dan kami pun keluar.


Yogyakarta, Januari 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dari Sorgum dan Masa Depan Pangan Nasional

 Judul           : Sorgum: Benih Leluhur untuk Masa Depan Penulis           : Ahmad Arif Penerbit                   : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) bekerja sama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) Tahun terbit           : 2020 (Cetakan ketiga, Juni 2025) Jumlah halaman : xii + 148  “Kearifan petani telah dimatikan dengan penyeragaman. Kemandirian telah digantikan dengan ketergantungan.” [1]   Buku ini menjadi perkenalan lanjutan tentang sorgum. Ketertarikan untuk membaca “sorgum” semakin menguat setelah awal November lalu mengikuti kuliah umum yang disampaikan oleh Ahmad Arif, M.Si. dengan tema “Mengelola Pengetahuan Tradisional Menjadi Kekuatan Budaya untuk Keberlanjutan Masa Depan”. [2] Meski tema kuliah umum hari itu tidak langsung menyoroti sorgum, ternyata pangan lokal ini bisa sek...

Mengulik Kisah di Balik Saidjah dan Adinda dalam Max Havelaar Karya Multatuli

  Nanti bangkehku di liat bidari, Pada sudarah menunjuk jari. Liat di lupa saorang mati, Mulutnya kaku cium bunga melati, "Mari kit 'angkat ia di sorga,   Kutipan itu adalah penggalan puisi “Lihatlah Bajing” yang ada di lampiran buku Max Havelaar . Melalui puisi itu saya akan menceritakan novel yang konon menjadi pembuka kran atas penderitaan pribumi Hindia awal abad ke-19 kepada dunia. Puisi itu muncul ketika Multatuli melalui komposisi Stern sedang menceritakan kisah akhir perjalanan Saidjah pada bab 17 (2022: 389). Saidjah menjadi tokoh yang sengaja dibangun Multatuli untuk memperlihatkan kondisi rakyat pribumi Hindia. Dikisahkan bahwa Saidjah merupakan seorang anak laki-laki yang pergi dari desanya di Parang Kujang karena bapaknya telah meninggal. Ia memutuskan untuk bekerja di Batavia dengan mimpi akan bisa membeli kerbau seperti yang pernah ia punya sebelumnya. Ketika memutuskan untuk merantau, ia telah terlebih dahulu berjanji pada Adinda (seorang perempua...

Kuasa Media pada Realitas Konflik Novel Anak Semua Bangsa

Kisah pada novel Tetralogi Buru II: Anak Semua Bangsa dibuka dengan bab prolog yang mengisahkan kelanjutan nasib Annelies dalam perjalanannya menjemput takdir ke Nederland. Bab pertama tersebut mengantarkan Annelies pada tidur abadinya, kematian. Dalam suasana berduka, bab-bab selanjutnya Pram tidak lagi menyoroti konflik para tokoh utama. Banyak tokoh-tokoh baru bermunculan dalam setiap bagian dari upaya Minke untuk menepis kedukaan pascakepergian Annelies. Ulasan kali ini akan fokus pada satu topik yang selalu muncul sejak awal bab dan beriringan hingga akhir, yaitu kuasa media. Novel pada tetralogi kedua ini tidak lagi menyajikan konflik batin mengenai hubungan kedirian tokoh, tetapi sudah mengarah pada permasalahan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Melalui Minke, Pram memasukkan beragam gagasan tentang bagaimana menumbuhkan kesadaran bahwa semangat Revolusi Prancis tentang kebebasan, persamaan, dan persaudaraan harus muncul dalam semangat hidup rakyat Hindia 1800-an. Period...