Langsung ke konten utama

Palembang?

Palembang?


Kisah ini akan saya mulai dengan alasan mengapa saya bisa sampai ke Palembang. Waktu itu saya berkesempatan untuk mengikuti Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia) di Bangka Belitung, sebagai perwakilan dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Poros yang saya ikuti di Universitas Ahmad Dahlan. Perjalanan berangkat dan pulang menggunakan pesawat. Ketika berangkat langsung memesan tiket pesawat dengan rute Yogyakarta-Palembang, Palembang-Pangkal Pinang. Akan tetapi, perjalanan pulang menuju Jogja sedikit mengalami kendala. Entah apa yang terpikir waktu itu ketika saya dan salah seorang teman saya, yaitu mba Yuni, memutuskan untuk membeli tiket pesawat dengan tujuan dari Palembang-Yogyakarta. Padahal, posisi kami berdua waktu itu masih berada di Bangka Belitung.
Berpikir ekonomis, yang terjadi justru hampir sama jika kami memesan tiket pesawat seperti ketika berangkat menuju Bangka Belitung. Namun, yang menjadi keuntungan bagi saya adalah hal-hal yang saya temui sepanjang melancong tak disengaja itu. Dua hari itu, semua jenis kendaraan yang ada di Indonesia hampir saya naiki semua. Mulai dari sepeda motor, mobil, bus, kereta, kapal, dan berakhir di pesawat terbang.
Setengah menginap di tempat asing itu, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Tiba di depan bandara ketika sudah masuk tengah malam. Tidak ada pilihan penginapan, duduk di pelataran bandara adalah hal yang saya pilih. Dingin. Sungguh.
Malam itu Palembang dingin, ditambah lagi rinai yang turun sangat lebat. Butiran-butiran air terbawa angin yang berembus kencang. Tanpa alas tanpa penghalang, saya tidur dengan kepala menempel di kursi dan kaki yang saya luruskan di bawahnya. Posisinya bukan tidur memang. Saya hanya duduk lalu memejamkan mata. Sekali lagi, dingin. Sungguh.
Satu, dua jam saya bertahan. Satu jam berikutnya saya ganti posisi. Tubuh saya rebahkan di atas kursi kemudian kerudung yang saya ambil dari dalam ransel saya jadikan bantal. Wah, kala itu begitu nyaman. Sungguh.
Sampai akhirnya saya dibangunkan oleh Mba Yuni. Perlahan mata terbuka, di depan sana sudah banyak berlalu-lalang calon penumpang pesawat yang sedang melakukan check in sebelum keberangkatan. Mencoba mengingat mengenai apa yang saya lihat, dan ternyata saya terbangun ketika hari telah berganti. Pukul 4 saya bangun. Alhamdulillah, beberapa jam saya bisa beristirahat dengan kenyamanan yang seadanya.
Terlalu berani memang. Saya pun sebenarnya heran, apakah tidak apa-apa dengan apa yang sudah saya lakukan waktu itu. Tidur di bandara? Iya, saya tidur depan bandara.
Kenapa tidak menginap di hotel saja?
Uang saku yang disediakan kampus waktu itu masih cukup banyak. Uangnya masih cukuplah untuk hanya sekadar menyewa satu kamar hotel dan untuk makan satu hari. Namun, lagi-lagi, saya terlalu berani dengan menganggap bahwa saya perlu merasakan bagaimana rasanya tidur di bandara. Hahaha, aneh memang.
Ketika saya sadar, saya pun menangis sejadi-jadinya. Menyadari bahwa apa yang telah saya lakukan waktu itu bisa saja mengancam keselamatan saya. Apalagi kami hanya berdua, di sebuah tempat asing yang belum kami ketahui lingkungannya.
Berlalu dari kisah pilu menginap di pelataran bandara, pagi harinya setelah cuci muka dan masuk ke musala, ada hal ingin saya lakukan sebelum waktu keberangkatan tiba pada malam harinya. Pukul 6 pagi saya menuju stasiun Lintas Rel Terpadu (LRT) Palembang. Tempatnya masih di dalam area bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Harga tiketnya hanya Rp 10.000. Dengan tiket itu saya sudah bisa menaiki kereta LRT yang super nyaman dengan kondisi di dalamnya yang sungguh mengasyikkan.
Sepertinya kereta yang saya naiki adalah kereta pertama di pagi itu atau mungkin tidak juga. Pukul 6.15 saya berangkat dari stasiun bandara menuju jembatan yang ikonik di kota Palembang, Jembatan Ampera.
Butuh sekitar 45 menit untuk sampai di Jembatan Ampera. Tidak terasa lama waktu yang saya habiskan selama perjalanan menggunakan LRT. Kenyamanan transportasi umum itu dan suasana yang tidak berdesak-desakan semakin mempernyaman perjalanan saya pagi itu.
LRT telah sampai di pemberhentian yang saya tuju. Saya pun langsung turun dan dimulailah hari itu dengan berjalan-jalan mengelilingi wilayah di kawasan Palembang. Ada 5 tempat yang sempat saya kunjungi hari itu. Inilah tempatnya:

Jembatan Ampera



Selain melihat lalu-lalang orang yang melewati jembatan, hal yang bisa dilakukan di sana adalah duduk bersantai di beberapa tempat duduk yang memang sudah disediakan. Para pelancong bisa duduk sembari melihat kegiatan para warga di sungai Musi atau hanya untuk memandangi keramaian di pinggiran sungai. Tidak hanya itu saja, mengunjungi Jembatan Ampera adalah bentuk keberuntungan karena setelahnya bisa langsung mengunjungi tempat-tempat menarik di sekelilingnya.

Pasar Ilir 10 dan Pasar Ilir 16

Terpisahkan oleh sungai Musi, pasar ilir 10 dan pasar ilir 16 menjadi pusat perdagangan di kota Palembang. Kedua pasar ini menjual beragam barang. Mulai dari buah-buahan, sayur mayur, makanan ringan, kebutuhan sandang, sembako, peralatan rumah tangga, dan jajanan khas yang menjadi julukan kota palembang pun ada, ‘empek-empek’.

Area pasar ilir 10 dan ilir 16 terbagi menjadi beberapa blok. Ada yang khusus menjual bahan mentah, pakaian, aksesoris, dan blok-blok lainnya yang saya belum ketahui. Luas sungguh area kedua pasar tersebut. Sepertinya saya baru membelah setengahnya saja waktu itu.

Masjid Agung Palembang

Jika ditarik garis lurus dari Jembatan Ampera menuju arah barat, sebuah masjid agung akan tampak berada di tengah-tengahnya. Sebuah masjid dengan arsitektur agung nan mewah berada di jantung kota Palembang. Sebelum azan berkumandang, orang-orang sudah berjalan menuju sumber yang sama, Masjid Agung Palembang.


Nuansa putih dari keseluruhan bangunan begitu kental. Dari bagian depan, tampak masjid ini begitu agung seperti namanya. Tinggi dari temboknya sekitar 20 m. Di sebelah kanan terdapat sebuah menara dengan ketinggian yang tertinggi dari semua bangunan masjid agung ini. Di sebelah kanan belakang, terdapat sebuah bangunan dengan arsitektur yang merupakan akulturasi antara Cina dan Islam. Sudut-sudut bangunannya menyerupai pagoda atau kelenteng. Namun, tidak meninggalkan unsur arsitektur Islam di bagian bawah bangunan.
Ketika masuk ke area salat perempuan, terlihat sebuah beduk berukuran besar di sebelah kiri belakang. Ketika waktu salat Zuhur tiba, seorang marbut memukul beduk dengan dipadukan kentongan yang tergantung di belakang beduk. Ukurannya cukup besar, kalau saya amati panjangnya sekitar 2,5 meter dengan lebar diameter 1,25 meter.  Setiap tepinya dihiasi dengan ornamen-ornamen yang semakin menambah kegagahan dan kemewahan dari beduk tersebut. Suaranya menggema, menggelegar, dan meraung. Ketika kentongan terakhir selesai dibunyikan, gema suara azan langsung terdengar. Seakan-akan semua ini sudah menjadi sebuah kebiasaan yang tiap-tiap waktunya telah terstruktur dengan apik.

Monumen Perjuangan Rakyat Sumatera Bagian Selatan

Jika berjalan ke arah selatan dari Masjid Agung Palembang, sebuah bangunan tinggi dengan lambang burung garuda akan Anda temukan. Monumen itu adalah sebuah bukti sejarah mengenai peristiwa perjuangan merebut kemerdekaan.
Didirikan pada 1988, Monumen Perjuangan Rakyat Bagian Selatan (Monpera) memiliki fungsi untuk menggali kembali kesadaran sejarah perjuangan dalam menegakkan kemerdekaan nasional. Sifat mengingatkan ini diperuntukkan bagi semua generasi penerus bangsa dengan cara mengenang jasa-jasa para pahlawan sebagai titik tolak dalam mengisi kemerdekaan dan pembangunan negara Indonesia. Monumen ini dibangun dengan berbagai filosofis sebagai berikut:
Keputihan melati melambangan kesucian dan kemurnian perjuangan para pahlawan.
Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dilambangkan dengan tinggi dinding 17 meter, jumlah jalur tampak depan 8, jumlah jalur dan bidang 45.
Lima bagian dinding monumen melambangkan lima daerah perjuangan rakyat Sumatera bagian selatan yaitu Sumsel, Lampung, Jambi, Bengkulu, dan Kepulauan Bangka dan Belitung.
Jalur 9; 3 tampak belakang; 3 kiri dan kanan mengandung makna kebersamaan angka 9. Palembang mengenal Batanghari Sembilan, Jambi: Pucuk Jambi Sembilan Lurah, Lampung: Lampung Siwo Mego
Dua relief mengapit monumen menggambarkan pertempuran lima hari lima malam dan perjuangan pra kemerdekaan
Semboyan perjuangan rakyat: Patah tumbuh hilang berganti. Hilang satu tumbuh seribu.

Menikmati Suasana di Pinggiran Sungai Musi


Ketika Anda sudah lelah berkeliling, menepi di pinggiran sungai Musi adalah sebuah pilihan yang tepat. Berjalan sedikit ke arah timur dari Monpera Sumbagsel, akan ada banyak tempat duduk yang disediakan bagi para pelancong untuk hanya sekadar duduk-duduk menikmati atmosfer tepian sungai. Apabila Anda lapar, banyak pula tersedia restoran yang menjual berbagai menu makanan. Jadi, jangan bingung jika Anda berkunjung atau singgah di Palembang. Ada begitu banyak destinasi yang bisa Anda kunjungi dan sangat menarik untuk bisa dikunjungi.

Demikian cerita saya setelah seharian mengunjungi Jembatan Ampera dan kawan-kawannya. Sebenarnya masih ada beberapa tempat yang bisa saya kunjungi di sana. Akan tetapi, Allah belum memberikan saya kesempatan luang untuk bisa mengunjunginya.


Nb: Salam rindu untuk Mba Yuni dari saya di negeri gajah putih. Tulisan ini untuk kita mba, sebagai bentuk kenangan karena sudah singgah di Palembang dan berkunjung pula ke Bangka Belitung. Semoga di lain kesempatan kita masih bisa berjumpa dengan kebahagiaan-kebahagiaan yang lainnya.
Selamat menjelang wisuda dan tetap semangat mba Yuni! Terima kasih juga karena sudah menjaga saya waktu itu.
#salambahasa
#salamliterasi
#salamrindu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dari Sorgum dan Masa Depan Pangan Nasional

 Judul           : Sorgum: Benih Leluhur untuk Masa Depan Penulis           : Ahmad Arif Penerbit                   : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) bekerja sama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) Tahun terbit           : 2020 (Cetakan ketiga, Juni 2025) Jumlah halaman : xii + 148  “Kearifan petani telah dimatikan dengan penyeragaman. Kemandirian telah digantikan dengan ketergantungan.” [1]   Buku ini menjadi perkenalan lanjutan tentang sorgum. Ketertarikan untuk membaca “sorgum” semakin menguat setelah awal November lalu mengikuti kuliah umum yang disampaikan oleh Ahmad Arif, M.Si. dengan tema “Mengelola Pengetahuan Tradisional Menjadi Kekuatan Budaya untuk Keberlanjutan Masa Depan”. [2] Meski tema kuliah umum hari itu tidak langsung menyoroti sorgum, ternyata pangan lokal ini bisa sek...

Mengulik Kisah di Balik Saidjah dan Adinda dalam Max Havelaar Karya Multatuli

  Nanti bangkehku di liat bidari, Pada sudarah menunjuk jari. Liat di lupa saorang mati, Mulutnya kaku cium bunga melati, "Mari kit 'angkat ia di sorga,   Kutipan itu adalah penggalan puisi “Lihatlah Bajing” yang ada di lampiran buku Max Havelaar . Melalui puisi itu saya akan menceritakan novel yang konon menjadi pembuka kran atas penderitaan pribumi Hindia awal abad ke-19 kepada dunia. Puisi itu muncul ketika Multatuli melalui komposisi Stern sedang menceritakan kisah akhir perjalanan Saidjah pada bab 17 (2022: 389). Saidjah menjadi tokoh yang sengaja dibangun Multatuli untuk memperlihatkan kondisi rakyat pribumi Hindia. Dikisahkan bahwa Saidjah merupakan seorang anak laki-laki yang pergi dari desanya di Parang Kujang karena bapaknya telah meninggal. Ia memutuskan untuk bekerja di Batavia dengan mimpi akan bisa membeli kerbau seperti yang pernah ia punya sebelumnya. Ketika memutuskan untuk merantau, ia telah terlebih dahulu berjanji pada Adinda (seorang perempua...

Kuasa Media pada Realitas Konflik Novel Anak Semua Bangsa

Kisah pada novel Tetralogi Buru II: Anak Semua Bangsa dibuka dengan bab prolog yang mengisahkan kelanjutan nasib Annelies dalam perjalanannya menjemput takdir ke Nederland. Bab pertama tersebut mengantarkan Annelies pada tidur abadinya, kematian. Dalam suasana berduka, bab-bab selanjutnya Pram tidak lagi menyoroti konflik para tokoh utama. Banyak tokoh-tokoh baru bermunculan dalam setiap bagian dari upaya Minke untuk menepis kedukaan pascakepergian Annelies. Ulasan kali ini akan fokus pada satu topik yang selalu muncul sejak awal bab dan beriringan hingga akhir, yaitu kuasa media. Novel pada tetralogi kedua ini tidak lagi menyajikan konflik batin mengenai hubungan kedirian tokoh, tetapi sudah mengarah pada permasalahan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Melalui Minke, Pram memasukkan beragam gagasan tentang bagaimana menumbuhkan kesadaran bahwa semangat Revolusi Prancis tentang kebebasan, persamaan, dan persaudaraan harus muncul dalam semangat hidup rakyat Hindia 1800-an. Period...